MBS: Memiliki Senjata Nuklir Itu Langkah Buruk, Tapi Tak Ada Pilihan Lain

INTIP24 – Putra Mahkota Saudi Arabia, Mohammed bin Salman (MBS) mengungkapkan, jika Iran mendapatkan senjata nuklir, Arab Saudi akan terpaksa melakukan hal yang sama.
Hal itu disampaikannya dalam sebuah wawancara dengan Fox News, yang kutipannya diterbitkan pada hari Rabu.

“Negara mana pun yang memiliki senjata nuklir – itu adalah langkah yang buruk,” jawab Putra Mahkota, yang biasa dipanggil MBS, ketika ditanya bagaimana tanggapan Riyadh jika Teheran menjadi negara dengan kekuatan nuklir.

“Bahkan jika Iran mempunyai senjata nuklir… negara mana pun yang menggunakan senjata nuklir, itu berarti mereka sedang berperang dengan negara lain,” katanya.

Negara-negara besar akan mengambil tindakan bersama karena, “dunia tidak bisa melihat Hiroshima lagi. Jika dunia melihat 100.000 orang tewas. Anda sedang berperang dengan seluruh dunia,” jelas Putra Mahkota.

Bacaan Lainnya

Kerajaan Saudi mengacu pada pemboman atom di kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang oleh AS pada bulan Agustus 1945. Kedua insiden tersebut, yang dilakukan dalam kurun waktu empat hari, tetap menjadi satu-satunya penggunaan senjata nuklir dalam suatu konflik.

Jurnalis Fox News mendesak MBS untuk memberikan jawaban yang lebih langsung mengenai senjata nuklir, dan bertanya: “Jika Iran mendapatkannya, maukah Anda?”

“Jika mereka mendapatkannya, kita harus mendapatkannya,” jawab bin Salman.

Iran, yang masih berada di bawah sanksi internasional yang keras atas program nuklirnya, telah berulang kali membantah klaim Amerika, Israel, dan negara-negara lain bahwa negara tersebut berupaya mengembangkan senjata atom.

Dalam pidatonya di PBB pada hari Selasa, Presiden Iran Ebrahim Raisi menegaskan kembali bahwa Teheran tidak akan pernah melepaskan haknya “untuk memiliki energi nuklir untuk tujuan damai.”

Namun, ia menekankan bahwa senjata nuklir tidak memiliki tempat dalam doktrin pertahanan dan doktrin militer Iran.

Raisi juga mengatakan negaranya sangat ingin kembali ke Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) tahun 2015, yang mempertimbangkan pencabutan sanksi sebagai imbalan bagi Teheran untuk membatasi aktivitas nuklirnya.

“Penarikan diri AS secara sepihak dari perjanjian penting di bawah Presiden Donald Trump merupakan “respon yang tidak tepat” terhadap pemenuhan kewajiban Iran sebagai bagian dari JCPOA,” tegasnya.

Saingan lama Arab Saudi dan Iran baru-baru ini mengalami pemulihan hubungan diplomatik setelah terputus selama tujuh tahun pada bulan Maret, melalui mediasi Tiongkok.

Sumber: RTNews
Editor: Hasan M





Pos terkait