Dalam wawancaranya dengan CBS baru-baru ini, Presiden Joe Biden mengatakan langkah tersebut akan menjadi “kesalahan besar.”
“Adalah suatu kesalahan… jika Israel menduduki… Gaza lagi,” katanya.
“Tetapi jika kita masuk… tapi memberantas kelompok e Hizbullah di utara, sedangkan Hamas di selatan, adalah sebuah keharusan.”
Israel pertama kali menduduki Gaza selama Perang Enam Hari tahun 1967 dengan Mesir, Yordania, dan Suriah, dan baru menarik pasukan dan pemukimnya hampir 40 tahun kemudian.
Mereka telah mempertahankan blokade ketat di wilayah kantong tersebut selama bertahun-tahun, dan telah melancarkan kampanye pengeboman berkala terhadap Hamas sejak kelompok tersebut menguasai Gaza pada tahun 2006.
Pertempuran paling akhir terjadi bulan lalu setelah serangan Hamas yang menewaskan sekitar 1.400 warga Israel.
IDF telah melancarkan serangan udara balasan selama berminggu-minggu dan secara bertahap meningkatkan serangan darat di Gaza, menyebabkan lebih dari 10.000 warga Palestina tewas, menurut pejabat setempat.
Di sisi lain, Turki telah mengecam Amerika Serikat atas pembelaan terhadap Israel. Sikap AS terhadap konflik Israel-Hamas telah mencoreng reputasinya dan menempatkan seluruh masyarakat dunia dalam posisi yang sulit.
Media Turki Hurriyet melaporkan pernyataan Turki tersebut dalam pertemuan antara Menteri Luar Negeri Hakan Fidan dan Menteri Luar Negeri Antony Blinken pada hari Senin, yang membahas krisis yang terjadi di Timur Tengah saat ini.
Pertemuan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Turki dan Israel, sekutu utama Washington di wilayah tersebut, dimana Presiden Recep Tayyip Erdogan baru-baru ini menuduh negara Yahudi tersebut melakukan “kejahatan perang” di Gaza dan mengecam serangan darat yang dilakukan negara tersebut sebagai “pembantaian yang terbuka dan keji.
Sumber: RT
Editor: Hasan M























































