Gunungkidul, intip24news.com – Tangis dan keluh kesah peternak di Kapanewon Tepus, Kabupaten Gunungkidul, DIY kembali terdengar. Hampir setiap tahun, terutama saat musim kemarau dan malam hari yang sepi, hewan ternak warga menjadi korban serangan anjing liar dan binatang buas lainnya.
Kambing hilang, sapi terluka, ayam mati berserakan. Kerugian tidak hanya materi, tapi juga memukul semangat warga yang menggantungkan hidup dari beternak.
Derangan Terjadi Hampir Setiap Tahun
Menurut penuturan warga di beberapa kalurahan di Tepus, kejadian seperti ini sudah seperti “langganan tahunan”. Sasaran utama biasanya kandang yang letaknya jauh dari rumah, minim penerangan, dan pagar yang kurang kuat.
“Yang paling sering ya kambing. Pagi-pagi dibuka kandang sudah kosong. Ada juga yang ketemu tinggal bekas cakar dan darah. Kami rugi, padahal itu modal untuk sekolah anak,” ujar salah satu warga Kalurahan Sidoharjo.
Kondisi geografis Tepus yang banyak area kebun, tegalan, dan perbukitan memang membuat anjing liar dan binatang lain leluasa berkeliaran, terutama malam hari.
Kapolsek Tepus AKP Suryanto: Mari Tingkatkan Kewaspadaan
Menanggapi keresahan warga, Kapolsek Tepus AKP Suryanto turun langsung memberikan imbauan. Ia mengajak seluruh warga, khususnya para peternak, untuk meningkatkan kewaspadaan.
“Kami memahami ini sudah berulang dan merugikan warga. Untuk itu kami mengimbau, tolong perhatikan kandang ternaknya. Kalau bisa posisinya jangan terlalu jauh dari rumah. Beri lampu penerangan dan perkuat pagarnya,” tegas Suryanto.
Kapolsek juga mengingatkan agar warga tidak lengah pada malam hari. “Serangan paling banyak terjadi jam 11 malam sampai subuh. Saat itulah warga harus lebih aktif memantau,” tambahnya.
Ajak Sinergi: Keamanan Tanggung Jawab Bersama
Lebih dari sekadar menjaga ternak, AKP Suryanto mengajak warga Tepus untuk menghidupkan kembali semangat Siskamling dan gotong royong.
“Keamanan dan kenyamanan lingkungan itu tanggung jawab kita bersama. Mari kita aktifkan ronda malam, saling jaga, saling memberi informasi. Kalau lihat anjing liar berkeliaran dalam jumlah banyak atau orang mencurigakan, segera kabari,” ajaknya.
Menurutnya, sinergi antara warga, perangkat kalurahan, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas adalah kunci agar wilayah Tepus tetap aman dan kondusif.
Jangan Takut Lapor, Polsek Siap Bantu
Kapolsek juga menegaskan agar warga tidak segan melapor jika terjadi kejadian.
“Begitu ada ternak diserang atau menemukan bangkai hewan dengan tanda-tanda dicakar binatang buas, langsung lapor ke Polsek Tepus atau Bhabinkamtibmas. Kami akan catat, olah TKP, dan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian untuk langkah selanjutnya,” jelasnya.
Laporan cepat dari warga, kata AKP Suryanto, akan sangat membantu polisi memetakan titik-titik rawan dan mengambil tindakan pencegahan.
Harapan Warga: Ada Solusi Jangka Panjang
Para peternak berharap selain imbauan, pemerintah juga bisa memberi solusi jangka panjang. Seperti bantuan pembuatan kandang yang lebih aman, program penertiban anjing liar, hingga edukasi cara beternak yang aman.
“Kami ingin beternak dengan tenang. Jangan sampai karena takut diserang, warga jadi malas beternak. Padahal ini salah satu penggerak ekonomi di Tepus,” kata seorang tokoh peternak.
Kasus serangan hewan liar memang bukan hal baru di Gunungkidul. Tapi dengan meningkatnya kewaspadaan, komunikasi, dan sinergi antara warga dan aparat, diharapkan kerugian bisa ditekan.
“Ingat, keamanan dimulai dari rumah kita sendiri. Jaga ternak, jaga lingkungan, dan jangan ragu melapor,” pesan penutup AKP Suryanto. (pri)












































