INTIP24 – Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menegaskan bahwa Rusia tidak akan memenangkan perang di Ukraina. Pernyataan Biden itu diutarakab saat mengakhiri kunjungan maraton ke Eropa di Finlandia pada Kamis lalu.
Dia memuji kekuatan aliansi NATO dan kemampuannya untuk menghentikan Presiden Rusia Vladimir Putin, bahkan ketika terobosan diplomatik di luar negeri datang dengan ketidakpastian yang berkepanjangan tentang masa depan perang.
“Tidak ada kemungkinan Putin menang,” kata Biden ketika ditanya apakah jaminan bahwa Ukraina akan bergabung dengan aliansi NATO setelah perangnya dengan Rusia berakhir dapat mendorong Putin untuk menghentikan konflik.
Dalam konferensi pers bersama di Helsinki dengan Presiden Finlandia Sauli Niinistö, Biden mencatat tidak ada negara yang dapat bergabung dengan NATO saat berada di tengah perang, karena itu akan menyeret seluruh aliansi ke dalam konflik.
Poin itu yang ditekankan AS minggu ini karena Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengkritik penolakan aliansi untuk mempercepat aksesi keanggotaannya, seperti dikutip The Hill dan Politico EU.
“Masalah apakah ini akan membuat Putin terus berperang atau tidak, jawabannya adalah Putin sudah kalah perang,” kata Biden. Seraya merinci kondisi yang dihadapi Rusia saat ini.
“Putin memiliki masalah nyata.
Bagaimana dia keluar dari sini?
Apa yang dia lakukan?”
Biden menambahkan bahwa komitmen berkelanjutan Amerika Serikat terhadap NATO adalah “taruhan terbaik yang dapat dilakukan siapa pun” karena menurutnya para pemimpin dunia menyimpan kekhawatiran bahwa AS di masa mendatang akan menarik diri dari aliansi tersebut.
Presiden AS itu mengunjungi Finlandia untuk menunjukkan dukungan bagi negara itu setelah bergabung dengan aliansi NATO pada bulan April.
Biden selama masa kepresidenannya berusaha meyakinkan sekutu bahwa AS adalah mitra yang dapat diandalkan di panggung dunia setelah empat tahun yang penuh gejolak di bawah pemerintahan Trump.
Sebagaimana diketahui, Presiden AS sebelumnya Donald Trump saat itu menyarankan AS untuk meninggalkan aliansi karena anggota lain tidak cukup berkontribusi untuk pengeluaran pertahanan.
Editor: Hasan M




















































