Surakarta, intip24news.com – Prodi Seni Pedalangan Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta menerima kunjungan dari RRI Surakarta yang diwakili oleh Katim Siaran RRI Surakarta, Indah Wulandari untuk penjajakan kerjasama dengan Prodi Seni Pedalangan.
Kunjungan kali ini diterima oleh Sekjur Pedalangan, Halintar Cokro Padnaba, M.Sn pada Jumad (24 juli 2026).
Koordinator Program Studi Seni Pedalangan, Pulung Wicaksana Nugraha, M.Sn., Kalab Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta, Sri Harti, M.Sn., atau yang lebih familiar dengan nama panggung Nyi Kenik Asmorowati, Dekan Sepuh FSP Dr. Tatik Harpawati, M.Sn., dan beberapa dosen Prodi Seni Pedalangan seperti Dra.Dewi Nurnani, M.Hum. juga dosen muda dalang duo kembar, Ni Seruni Widawati, M.Sn., dan Seruni Widaningrum, M.Sn., selaku PIC. Kerjasama.
Dalam pertemuan yang santai dan penuh kekeluargaan ini Katim Siaran Indah Wulandari menyampaikan keinginannya untuk kembali menjalin kerjasama dengan Prodi Seni Pedalangan, FSP, ISI Surakarta.
Hal itu dilakukan untuk bersinergi dalam mengisi dialog interaktif seputar tokoh wayang di Pro4 RRI Surakarta dan membawakan jagat wayang oleh dalang muda dalam video pendek tentang ciri, karakter, filosofi tokoh wayang.
Prodi Seni Pedalangan tentunya sangat mendukung aksi perubahan yang akan dilakukan oleh Katim Siaran RRI Surakarta ini yang berjudul “Menggaet Generasi Muda, Mencintai Budaya melalui Jagad Wayang berbasis Multi Platform.”
“Menjaga kelestarian budaya di era modern membutuhkan strategi multi channel yang adaptif dan jagad wayang ini adalah jawaban. Dengan mengenalkan wayang, filosofi bentuk dan watak kesatria dalam cerita pewayangan secara digital, RRI Surakarta ikut membangun karakter generasi muda yang bangga akan identitas bangsanya,” tutur Indah Wulandari.
“Semoga program ini akan terealisasi dengan baik, terjalin kerjasama yang baik dan berkelanjutan bersama ISI Surakarta membangun bangsa melalui seni budaya. Maju terus RRI Surakarta, Prodi Pedalangan ISI Surakarta semakin membahana “Jagad Wayang kuncara anjayeng Bawana”. Pungkasnya. (Sri Harti)













































