Yusuf mengatakan simpanan kelas atas terkaya, yaitu simpanan di perbankan untuk kelompok nominal di atas Rp 5 miliar, antara September 2022 hingga September 2023 tumbuh 7,25%. Setahun sebelumnya, antara September 2021 hingga September 2022 bahkan tumbuh 8,79%.
Sedangkan simpanan kelas bawah dan menengah, yaitu simpanan di perbankan untuk kelompok tiering nominal di bawah Rp 100 juta, antara September 2022 hingga September 2023 tumbuh hanya 3,03%. Setahun sebelumnya antara September 2021 hingga September 2022 tumbuh hanya 3,33%.
Sedangkan simpanan kelas bawah dan menengah, yaitu simpanan di perbankan untuk kelompok tiering nominal di bawah Rp 100 juta, antara September 2022 hingga September 2023 tumbuh hanya 3,03%. Setahun sebelumnya antara September 2021 hingga September 2022 tumbuh hanya 3,33%.
“Pertumbuhan kekayaan kelas atas yang jauh lebih tinggi dari kelas bawah dan menengah ini mengindikasikan bahwa pemulihan ekonomi pasca pandemi memiliki tendensi menciptakan kesenjangan yang semakin lebar: kekayaan si kaya tumbuh jauh lebih cepat dari si miskin,” kata dia.
Dia mengatakan kondisi makan tabungan tersebut tidak terlepas dari pola pemulihan ekonomi yang umum dikenal sebagai K-shape. Menurut dia, strategi pemulihan itu didominasi sektor tertentu yang hanya menguntungkan kelas atas.
“Dengan K-shape recovery, manfaat pertumbuhan ekonomi lebih banyak dinikmati kelas menengah-atas. Implikasi-nya, kualitas pertumbuhan rendah dan penanggulangan kemiskinan berjalan lambat,” ujar dia. (cnbc)


























































