Herbert Marcuse:  Kritik atas Prestasi Kerja sebagai Dominasi | Oleh: Azmir Zahara

Dilansir dari buku Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM): Sebuah Pengantar (2022) oleh Hesti Widianti, kata kinerja adalah singkatan dari Kinetika Energi Kerja yang dalam bahasa Inggris disebut performance. Kemudian dalam buku Manajemen Sumber Daya Manusia (2012) oleh Marwansyah, Levinson menjelaskan, kinerja adalah pencapaian atau prestasi seseorang berkenaan dengan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya.  

Masih menurut pendapat Levinson, penilaian kinerja merupakan uraian sistematis tentang kekuatan atau kelebihan dan kelemahan yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang atau sebuah kelompok.

Penilaian kinerja bertujuan untuk mengobservasi kinerja seorang pekerja dan dari hasil observasi ini kemudian dibuat menjadi sebuah laporan formal.

Dalam dunia kerja, prestasi kerja dipandang sebagai hasil kerja nyata yang dicapai oleh pekerja dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya. Hal ini secara umum diukur berdasarkan kecakapan, kesungguhan, kualitas hasil, serta ketepatan waktu.

Bacaan Lainnya

Secara psikologis, prestasi ini ditentukan oleh faktor kemampuan—yang mencakup IQ, pengetahuan, dan keterampilan—serta motivasi yang menggerakkan individu untuk mencapai tujuan aumulasi kapital.

Perusahaan menekankan pentingnya prestasi kerja karena dianggap sebagai kunci dalam menjamin kelangsungan hidup perusahaan melalui standarisasi kuantitas, inisiatif, kecakapan mental, dan disiplin waktu. Untuk melegitimasi argumen ini, pengusaha biasanya menggunakan sistem penilaian kinerja seperti;

KPI (Key Performance Indicators)
Dalam banyak kasus, KPI tidak digunakan untuk memetakan pengembangan karier, melainkan sebagai jalur hukum yang aman untuk mengeluarkan pekerja.

Pengusaha terkadang menetapkan target yang sangat tinggi sehingga secara statistik mustahil dicapai. Ketika pekerja gagal, perusahaan memiliki bukti tertulis “kinerja buruk” untuk mempermudah pemutusan hubungan kerja dan menghindari pesangon penuh.

OKR (Objectives and Key Results)
OKR memiliki prinsip “Stretch Goals”—target yang sengaja dibuat sangat menantang (biasanya hanya diharapkan tercapai 60-70%).

Dalam tangan pengusaha yang menekan, kegagalan mencapai 100% (padahal secara teori OKR memang didesain sulit) digunakan untuk menekan mental pekerja agar merasa “berutang” atau “kurang berkontribusi”.

Karena OKR bersifat fleksibel dan bisa berubah cepat, pengusaha bisa mengubah arah pekerjaan sewaktu-waktu. Pekerja dipaksa untuk selalu adaptif tanpa adanya kompensasi atas beban kerja yang mendadak berubah tersebut. 

PIP (Performance Improvement Plan)

Rencana Peningkatan Kinerja adalah sebuah dokumen formal dan periode evaluasi yang diberikan kepada karyawan yang kinerjanya dianggap tidak memenuhi standar perusahaan. Secara teoritis, PIP adalah “kesempatan kedua”.

Namun, di tangan pengusaha, ketika seseorang dimasukkan ke dalam PIP, itu bukan untuk dibimbing, melainkan sebagai tanda bahwa perusahaan sedang mengumpulkan dokumentasi untuk mengeluarkan mereka secara legal.

Bagi pengusaha, upah dan jabatan adalah investasi, bukan sekadar biaya. Argumen prestasi digunakan karena memberikan penghargaan pada mereka yang berprestasi menciptakan budaya kompetisi.

Perusahaan ingin memastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan untuk kenaikan gaji sebanding dengan nilai tambah (added value) yang diberikan pekerja.

Kritik Herbert Marcuse Terhadap Konsep Prestasi Kerja
Namun, filsuf teori kritis Herbert Marcuse memberikan kritik tajam terhadap pemujaan atas prestasi kerja ini, yang ia rangkum dalam analisisnya mengenai masyarakat industri maju.

1. Prestasi sebagai Instrumen Dominasi
Bagi Marcuse, apa yang dalam masyarakat modern disebut sebagai prestasi kerja sebenarnya adalah manifestasi dari “Prinsip Prestasi” (Performance Principle), sebuah bentuk historis dari prinsip realitas yang mendominasi manusia.

Marcuse berargumen bahwa masyarakat industri maju menggunakan teknologi dan efisiensi—bukan lagi teror fisik—sebagai alat kontrol sosial yang sangat efektif.

Dalam sistem ini, tuntutan untuk terus berprestasi merupakan bagian dari “rasionalitas teknologi” yang memobilisasi individu secara total demi kepentingan ekspansi dan pertahanan sistem ekonomi yang ada.

2. Alienasi yang Disublimasikan: Manusia sebagai “Benda”
Kritik Marcuse menyoroti bahwa prestasi kerja dalam sistem kapitalisme maju telah mengubah karakter alienasi pekerja.

Jika pada masa awal industri alienasi berupa penderitaan fisik, kini pekerja modern sering kali merasa menjadi bagian dari komunitas teknologi (“in the swing of things”) karena kenyamanan yang diberikan oleh sistem.

Namun, Marcuse menegaskan bahwa ini adalah bentuk perbudakan yang disublimasikan, di mana manusia direduksi menjadi “instrumen” atau “benda” yang fungsinya ditentukan sepenuhnya oleh peralatan teknis dan birokrasi perusahaan.

Pekerja kehilangan otonomi profesionalnya dan menjadi bagian dari mesin besar yang tidak bisa ia kendalikan.

3. Kebutuhan Palsu di Balik Motivasi Kerja
Konsep Kebutuhan Palsu (False Needs) menurut Herbert Marcuse adalah bentuk kontrol sosial yang sangat efektif dalam masyarakat industri maju, di mana kebutuhan tersebut dipaksakan kepada individu oleh kepentingan sosial tertentu untuk melanggengkan penindasan, kerja keras, agresi, dan ketidakadilan.

Meskipun pemuasan kebutuhan ini memberikan rasa senang yang luar biasa bagi pekerja, kepuasan tersebut bersifat menipu karena berfungsi untuk menghentikan
kemampuan individu dalam mengenali penyakit masyarakat secara keseluruhan.

Marcuse mengkritik motivasi yang mendorong orang untuk berprestasi, yang menurutnya sering kali berakar pada “kebutuhan palsu”. Sistem menciptakan kebutuhan untuk terus mengonsumsi barang dan jasa demi melanggengkan kerja keras (toil) dan agresi.

Akibatnya, pekerja menemukan “jiwa” mereka di dalam komoditas seperti mobil atau gawai canggih, yang membuat mereka merasa bahagia dalam kondisi yang sebenarnya tertindas.

Pencapaian atau prestasi dalam kerja menjadi cara untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang dipaksakan oleh kepentingan eksternal ini.

4. Munculnya Manusia Satu Dimensi
Efek paling berbahaya dari penekanan total pada prestasi kerja menurut Marcuse adalah lahirnya “Manusia Satu Dimensi”. Karena individu terus-menerus disibukkan dengan tuntutan operasional dan perilaku yang sesuai dengan standar sistem, mereka kehilangan daya kritis untuk mempertanyakan apakah sistem tersebut benar-benar rasional atau justru destruktif.

Berpikir secara operasional dan pragmatis demi prestasi membuat individu tidak mampu membayangkan alternatif kehidupan yang lebih bebas, di mana teknologi seharusnya digunakan untuk mengurangi beban kerja dan memacu emansipasi manusia, bukan justru untuk memperbudaknya dalam siklus produksi yang tak henti.

5. Penolakan Agung (Great Refusal)
Melalui kritik ini, Marcuse mengajak manusia untuk melakukan “Penolakan Agung” (Great Refusal) terhadap pola hidup satu dimensi yang hanya mengejar prestasi teknis demi kelanggengan sistem yang menindas tersebut.

Pekerja berani menyuarakan nilai-nilai etika atau dampak sosial dari pekerjaannya dan menolak untuk membiarkan seluruh aspek hidupnya diukur hanya berdasarkan angka KPI dan OKR atau efisiensi teknis semata. 

Kesimpulan
Herbert Marcuse memandang bahwa konsep prestasi kerja dalam masyarakat industri modern bukan sekadar alat untuk mengukur kemampuan dan produktivitas pekerja, tetapi juga menjadi mekanisme dominasi dalam sistem kapitalisme.

Melalui berbagai sistem penilaian seperti KPI, OKR, dan PIP, perusahaan tidak hanya mengontrol hasil kerja, tetapi juga membentuk pola pikir dan perilaku pekerja agar selalu tunduk pada tuntutan efisiensi, kompetisi, dan akumulasi kapital.

Dalam kondisi ini, pekerja perlahan kehilangan otonomi karena diposisikan sebagai bagian dari mesin produksi yang harus terus beradaptasi demi kepentingan perusahaan.

Marcuse juga menilai bahwa motivasi untuk terus berprestasi sering kali dibangun di atas “kebutuhan palsu”, yaitu kebutuhan yang diciptakan sistem agar individu tetap bekerja keras dan konsumtif.

Akibatnya, pekerja merasa bahagia melalui pencapaian material dan simbol status, padahal sebenarnya mereka tetap berada dalam kondisi keterasingan (alienasi). Situasi ini melahirkan “manusia satu dimensi”, yakni individu yang kehilangan daya kritis untuk mempertanyakan sistem kerja yang menindas karena terlalu sibuk mengejar target dan standar produktivitas.

Melalui gagasan “Penolakan Agung” (Great Refusal), Marcuse mengajak manusia untuk menolak pola hidup yang hanya mengukur nilai diri berdasarkan prestasi kerja dan efisiensi teknis. Teknologi dan kerja seharusnya digunakan untuk membebaskan manusia serta meningkatkan kualitas hidup, bukan menjadi alat kontrol yang memperkuat penindasan dalam masyarakat kapitalis modern.

Sumber:
https://www.kompas.com/skola/read/2023/06/14/120000969/pengertian-kinerja-menurut-ahli.
Jurnal JUPARITA, Analisis Efektivitas OKR vs KPI dalam Manajemen Kinerja Industri, 2023
https://www.sakura-system.co.id/blog/okr-vs-kpi-perbedaan-fungsi-dan-cara-tentukannya
https://ukirama.com/blogs/performance-improvement-plan
https://www.marcuse.org/herbert/pubs/64onedim/odmcontents.html
https://adoc.pub/penilaian-kinerja-levinson-mendefinisikan-kinerja-dan-bebera.html





Pos terkait