Puasa yang Tidak Diterima Oleh: KH Ronggosutrisno

Dulu Kaeh (panggilan seorang cucu pada kakek di Madura) selalu mengingatkan cucu-cucunya selepas kenduri Nisfu Sya’ban di Mushola.

“Sang Mubarak akan datang mengunjungi kita selama sebulan dan akan membawa, serta membagikan banyak kebaikan kepada kita. Siapkan diri kalian untuk menyambut kedatangan sang Mubarak. Jangan sampai kedatangannya tidak meninggalkan kebaikan kepada kita”.

Dan berikutnya entah sejak kapan tradisi keluarga kami melakukan, sebelum munggahan selalu saja semua anak dan cucu berkumpul di rumah kaeh. Sanak keluarga yang biasa berhari hari mengais rizki ditengah laut, sebagai nelayan. Dapat di pastikan mendarat dan datang dengan membawa sebagian ikan hasil tangkapan.

Selanjutnya menjadi santapan bersama di rumah Kaeh. Tahun tujuh puluhan ketika tanaman masih menepati musimnya, bulan Puasa selalu saja musim buah rambutan dan keluarga yang merantau di Jakarta pasti membawa rambutan Aceh Lebak. Dan itu merupakan buah-buahan istimewa di desa kami.

Bacaan Lainnya

Di pasar Bangkalan jenis buah rambutan yang selalu ada rambutan nyonya dan jarang ditemui rambutan Jakarta (Aceh).

Nisfu Sya’ban atau pertengahan bulan sya’ban, yang mengisyaratkan bahwa bulan Ramadhon akan datang setengah bulan lagi.

Malam Nisfu Sya’ban merupakan momentum silaturrahmi antar penduduk desa yang selalu disambut dengan kebahagiaan. Malam nisfu sya’ban di desa kami selalu menghadirkan kebersamaan antara penduduk desa untuk saling berbagi.

Dilanjutkan dengan kenduri lalu melantunkan Sholawat dan munajat. Pada kesempatan itu pula tetua desa yang juga merupakan Kiyai (Tokoh Agama) mengingatkan pada jamaah yang menghadiri Nisfu sya’ban di Masjid besar desa “ masih cukup waktu, setengah bulan lagi Ramadan akan mengunjungi kita, di bulan Ramadan itulah kita diwajibkan berpuasa satu bulan penuh yang kemudian Ibadah Puasa itu di sempurnakan dengan membayar Zakat Fitrah dan mendirikan sholat Iedul fitri ke esokan harinya.

Bagi yang berhalangan tetap (tidak dapat menjalankan Ibadah Puasa) karena sudah lanjut usia atau penyakit menahun. Maka yang bersangkutan diwajibkan membayar fidiah. Dan bagi yang punya hutang puasa pada Ramadan tahun yang lalu untuk segera membayar.

Demikian Nisfu Syaban, malam berbagi, saling mengingatkan dan munajat bersama menyongsong datang nya bulan yang penuh Barokah.

Bakda Sholat Ashar, menjelang munggahan (menjelang tarawih dan sahur hari pertama) sanak keluarga mulai berdatangan di rumah Kaeh.

Nyae (panggilan nenek di Madura) menyambut dengan suka cita kedatangan anak, menantu dan cucu nya. Setelah bertegur sapa sambil melepas kan rasa kangen masing masing mengambil tempat duduk diatas hamparan tikar pandan, yang sudah di gelar sejak Ashar.

Ada juga sebagian keluarga membantu Nyae mempersiapkan hidangan yang sebagian merupakan cangkingan dari para anak dan menantunya.

Allah SWT Berfirman dalam sebuah Hadist Qudsi: “Sekiranya hamba-ku mengetahui apa yang tersembunyi dalam bulan ramadhan, pastilah mereka mengharap agar setahun penuh itu adalah bulan ramadhan.” Islam tidak mensyari’atkan sesuatu selain pasti mengandung hikmah.

Dalam ibadah puasa terdapat sejumlah hikmah dan maslahat, diantaranya adalah: Tazkiyatun nafs (pembersih jiwa), dengan mematuhi perintah Allah SWT, menjauhi segala larangannya, dan melatih diri untuk menyempurnakan ibadah kepada Allah SWT semata.

Puasa juga merupakan pembinaan (tarbiah), kesabaran, menumbuhkan jiwa kepekaan sosial, menajamkan perasaan terhadap nikmat Alloh SWT. menghantarkan seseorang menuju derajat Taqwa. Untuk itu, sebelum kita memasuki bulan Ramadhon yang kita diwajibkan berpuasa.

Maka hendaklah untuk saling mengikhlaskan atas segala salah dan kehilafan diantara kita. Setelah berhenti sejenak, Kaeh melanjutkan dengan menukil kisah dalam sebuah Hadist.

Saat itu malam Idul Fitri seperti biasanya Rosullulloh SAW dan para sahabat membaca Takbir, Tahmid dan Tahlil di Masjidil Haram. Saat sedang bertakbir, tiba-tiba Rosullullah SAW keluar dari kelempok dan menepi kearah dinding.kemudian Rosulullah SAW mengangkat kedua tangannya (layaknya orang berdoa) lalu Rosullullah SAW mengatakan:”Amin” sampai tiga kali.

Setelah Rosullullah SAW mengusapkan kedua tangan diwajahnya (layaknya seperti orang setelah selesai berdoa) para sahabat mendekati dan bertanya,” Ya Rosulullah, apa yang terjadi sehingga engkau mengangkat kedua belah tanganmu sambil mengatakan:”Amin” sampai tiga kali?’

Jawab Rosulullah SAW,”tadi saya didatangi Malaikat Jibril dan meminta saya mengaminkan doanya”.

“ Apa gerangan doa yang di bacakan jibril itu ya Rosulullah?’ Tanya sahabat. Kemudian Rosulullah SAW menjawab,”kalu kalian ingin tahu inilah doa yang di sampaikan jibril dan saya mengaminkan”;

Yaa Allah ya Tuhan Kami, janganlah diterima amal ibadah kaum muslimin selama bulan Ramadhan apabila dia masih bersalah kepada orang tuanya dan belum di maafkan”. Rosulullah SAW mengatakan:”Amin”

” Yaa Allah ya Tuhan kami, janganlah diterima amal ibadah kaum muslimin selama bulan ramadhan apabila suami isteri masih berselisih dan belum saling memaafkan”, Rosulullah SAW mengatakan :”Amin”

” Yaa Allah ya Tuhan kami, janganlah diterima amal ibadah kaum muslimin selama bulan Ramadhan apabila dia dengan tetangga dan kerbatnya dia .masih berselisih dan belum saling memaafkan”. Rosulullah SAW mengatakan :”Amin”.

Demikian Kaeh mengahiri nasehat pada acara munggahan (mengawali Puasa) kepada Anak dan cucu-cucunya dengan dilanjutkan saling bermaaf-maafan.

(KH Ronggosutrisno Tahir)
Al Ikhlas Janur Hijau Priuk





Pos terkait