Seorang ayah mengatakan anaknya yang berusia 12 tahun, Muhammad al-Bardawil, menjadi sasaran tentara Israel karena menyaksikan langsung eksekusi keji tentara zionis terhadap petugas medis pada Maret lalu.
Muhammad ditembak mati oleh pasukan Angkatan Laut Israel pada 10 Mei saat ia sedang memancing bersama ayahnya di pantai Rafah.
Kematian bocah tersebut terjadi hanya beberapa minggu setelah ia selamat dari eksekusi Israel terhadap 15 paramedis dan pekerja Pertahanan sipil. Para korban tersebut diketahui sedang menghadapi serangan di Rafah Barat pada 23 Maret, demikian dilansir Middle East Eye, Senin (19/5).
Dalam kejadian itu, ayahnya, Saeed al-Bardawil, menyatakan ia sedang berjalan bersama anak-anak di daerah Tal al-Sultan ketika pasukan khusus Israel tiba-tiba muncul dan menahan mereka.
Bersama beberapa orang lainnya, pasukan Israel melucuti pakaian mereka, mengikat, dan menodongkan senjata ke arah mereka sambil memaksa untuk berbaring tengkurap. Aksi keji ini hanya berjarak beberapa meter dari ambulans Bulan Sabit Merah yang terbakar membara karena lebih dulu diserang.
Sekitar pukul 5 pagi, sejumlah ambulans tambahan dan truk pemadam kebakaran Pertahanan Sipil tiba di lokasi kejadian dalam misi penyelamatan.
Berdasarkan kesaksian ayah Muhammad, saat petugas mendekati kendaraan yang dibom, tempat di mana rekan medis tewas dan terluka, tentara Israel melepaskan tembakan langsung ke arah mereka.
Al-Bardawil mengatakan dia dan yang lainnya menutup mata mereka. Tetapi tidak dengan Muhammad.
“Dia melihat semuanya,” kata sang ayah, seraya menambahkan, “Dia menceritakannya kepada saya secara langsung ketika saya berbaring dengan mata tertutup di dekatnya.”
“Para tentara mulai maju ke arah ambulans. Pertama datang lima tentara, lalu lima lainnya menyusul. Beberapa pemuda berkumpul di luar, dan yang lainnya masih di dalam ambulans,” katanya.
“Saat tentara mendekat, mereka melepaskan puluhan peluru ke arah petugas medis, menembak mereka dari jarak dekat di atas kepala mereka,” tambah al-Bardawil.
“Petugas medis itu meminta bantuan. Kemudian terdengar tembakan yang semakin keras, lalu suara-suara itu berhenti,” kenangnya.
Muhammad melihat apa yang tidak bisa dilihat ayahnya. Ia menyaksikan eksekusi sistematis terhadap petugas medis, termasuk mereka yang masih hidup dan meminta pertolongan. Seiring masuknya lebih banyak tentara, beberapa korban luka yang masih hidup pun ditembak mati dari jarak dekat.
Setelah kejadian itu, militer Israel menggunakan buldoser untuk menggali lubang. Mereka menguburkan petugas medis di bawah pasir serta menempatkan ambulans dan truk pemadam kebakaran yang rusak di atasnya.
Al-Bardawil dan anak berulang kali dipindahkan, diinterogasi, dan akhirnya matanya tertutup lagi. Tapi mata Muhammad tidak ditutup.
“Mereka menyuruh kami duduk di lubang dan senjata diarahkan ke arah kami. Muhammad menoleh ke saya sambil berkata ‘Ayah, apa yang harus kami lakukan? Mereka akan membunuh kami, saya berharap mereka hanya menangkap kita saja.’”
‘Ayah, aku tertembak’
Beberapa pekan kemudian, pada tanggal 10 Mei, sebuah kapal Angkatan Laut Israel mendekat saat ia dan ayahnya memancing pada pagi hari di lepas pantai Gaza.
“Kami mencoba melarikan diri, dan mereka langsung menembak. Awalnya menggunakan peluru meriam, lalu dengan peluru tajam. Lalu datang lagi satu peluru,” ucap al-Bardawil.
Saat itu, Muhammad berkata, “Ayah, aku tertembak” lalu dia pingsan. Muhammad meninggal tak lama setelah tiba di Rumah Sakit Palang Merah.
“Itu adalah pembunuhan yang disengaja dan terencana,” kata al-Bardawil.

















































