Bekasi, Noer Ali dan Kota Patriot

Next Saya’ti Center. Patriot yang berarti sifat kepahlawanan atau jiwa pahlawan, dalam bahasa ingris patriotism. Patriotisme adalah sikap berani, pantang menyerah serta sikap rela berkorban demi bangsa dan negara baik pengorbanan harta benda maupun jiwa raga.

Rela berkorban merupakan salah satu nilai-nilai kepahlawanan dalam berbagai persfektipnya.
Misalnya setiap tanggal 10 November bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan. Peringatan ini merupakan momentum penting untuk merefleksikan dan mengingat jasa para pahlawan dan para pejuang yang rela berkorban jiwa dan raga.

Sikap rela berkorban, mengandung arti mendahulukan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadi atau golongan. Rela berkorban dalam bentuk menyumbangkan tenaga, pikiran, keahlian, kemampuan dan materi untuk kepentingan negara dan bangsa, serta bertindak yang terbaik dan berguna bagi bangsa dan negara.

Demikian juga, sikap jiwa patriot dan kepahlawanan dapat dilakukan pada masa kini dan mendatang bagi keutuhan bangsa dan negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Bacaan Lainnya

Guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa sangat benar, hal ini dapat kita tilik bagaimana patriotiknya para guru berjuang membebaskan rakyat Indonesia dari kebodohan, di tengah segala keterbatasan media didik, fasilitas, dan represipnya penjajahan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pahlawan adalah: orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Maka secara harfiah pahlawan tanpa tanda jasa adalah orang yang berani dan rela berkorban dalam membela kebenaran tanpa mengharapkan imbalan dan keuntungan pribadi.

Simak saja Himne Guru, liriknya: “Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru…terima kasihku tuk pengabdianmu. Engkau sebagai pelita dalam kegelapan. Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan. Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa”.

Kota Bekasi memiliki luas wilayah sekitar 210,49 km2, dengan batas wilayah Kota Bekasi adalah: Sebelah Utara : Kabupaten Bekasi, Sebelah Selatan : Kabupaten Bogor dan Kota Depok, Sebelah Barat : Provinsi DKI Jakarta dan Sebelah Timur : Kabupaten Bekasi, selanjut nya Kota Bekasi berkembang menjadi tempat tinggal kaum urban dan sentra industri.

Kota bekasi juga dijuluki sebagai Kota Patriot dan Kota Pejuang dengan pengertian semangat pengabdian dalam perjuangan bangsa, dimana semua melekat pada lambang daerah Kota Bekasi.

Gedung Juang Bekasi yang berada di Tambun, bangunan tua yang dibangun tahun 1910. Pada masa kemerdekaan, gedung yang menjadi markas Tentara Republik Indonesia dan kerap menjadi sasaran tembak pesawat tempur Belanda.

Menakjubkan, dihujani peluru dan meriam, bangunan tersebut tidak meledak atau hancur. hanya kerusakan kecil yang tidak berarti.

Monumen Tugu yang bertempat di pertigaan Jalan KH. Agus Salim, Bangunan dengan dasar segitiga dan di kelilingi oleh rantai. Sedangkan bentuk monumen Tugu tersebut adalah segi empat yang berketinggian 210 cm. Juga puncak bangunan tersebut dinamakan kepala tugu yang berketinggian 75 cm itu dapat dibuktikan memang bersejarah kepahlawanan.

Mengapa? Karena di atas puncak tugu tersebut dilengkapi dengan pecahan pistol, sebuah pistol genggam milik pejuang, mortir dan granat.

Monumen Tugu Bekasi dibangun tanggal 13 Desember 1949. Hal itu bertepatan dengan hari memperingati pembumihangusan Bekasi atau disebut Bekasi Lautan Api.

Monumen Tonggak. di Jln. Veteran, depan Kodim 0507, Kota Bekasi. Tinggi monumen ini sekitar 5,8 m. Memang jarang-orang yang mengetahui jika tempat ini memiliki sejarah penting bagi terbentuknya Kabupaten Bekasi. Di bawah pimpinan KH. Noer Ali mengadakan rapat akbar yang diikuti oleh 40000 warga Bekasi pada tangggal 17 Januari 1950.

Rapat akbar tersebut dihajatkan wilayah Bekasi untuk memisahkan diri dari Keresidenan Jatinegara. Selanjutnya menjadi Kabupaten Bekasi. Dan warga Bekasi setia terhadap pemerintahan Republik Indonesia. Apa yang dilakukan oleh KH Noer Ali 67 tahun silam, sekarang di peringati sebagai Hari jadi Kabupaten Bekasi.

Kala itu, Bekasi, Karawang, hingga Cikampek dikuasai oleh Belanda. Basis pertahanan negara di tiga wilayah itu sudah porak poranda dihancurkan Belanda.

Tidak ada lagi kekuatan militer di kawasan Bekasi saat itu. Noer Ali maju sebagai seorang putra daerah yang memperjuangkan kedaulatan daerah kelahirannya. Noer Ali pun berangkat ke Yogyakarta untuk menemui Jenderal Sudirman.

Dengan bekal nasehat dan arahan dari Panglima Sudirman Noer Ali membuat basis perlawanan masyarakat tanpa mengenakan embel-embel dan seragam TNI. Kelompok perlawanan masyarakat itu dia namakan ‘Hizbullah Sabilillah Jakarta Raya’.

Kenapa tidak pakai seragam TNI? Karena kalau ketahuan Belanda, pasti langsung dilibas. Jadi ini istilahnya kekuatan rakyatlah,” ujar Ali yang banyak menimba ilmu di pesantre At Taqwa
Selama hidupnya, menurut dia, Noer Ali juga pernah menjadi koordinator Jatinegara, jabatan setingkat bupati pada waktu itu. Dulu, Jatinegara masih termasuk wilayah Bekasi.

Dia juga bersama temannya membuat badan kerja sama antara ulama dan militer di tahun 1958. Setelah G30S, Noer Ali bikin Majelis Ulama Jawa Barat. Waktu itu belum ada MUI, jadi cikal bakal MUI itu ya di Jawa Barat oleh KH Noer Ali.

Adapun Noer Ali dikenal sebagai ‘Singa Karawang-Bekasi’ lahir pada 15 Juli 1914 dan meninggal di Bekasi pada 29 Januari 1992 dalam umur 77 tahun.

“Bagi yang mengenal dekat dan pernah mengikuti perjuangannya dapat merasakan heroisme Kiyai Nur. Beliau sangat heroik manakalah bertidak sebagai pimpinan. Sampai graham dan sorot mata yg kadang mencorong dalam kelembutan sebagai Guru. Ya, patriotik heroism. Disitu terbangun KETELADANAN SEBAGAI SEORANG ULAMA MELITER.” Tutur Ali menambahkan kisah tentang sosok Singa Bekasi ini.

KH. Noer Ali adalah putera dari H. Anwar bin Layu dengan Hj Maimunah binti Tarbin. Jejak nilai dan perjuangannya kini bisa dilihat di Pesantren Attaqwa.

Pesantren itu dibangun Noer Ali di dekat kediamannya dulu, di Ujung Malang yang kini bernama Ujung Harapan. Sampai saat ini, Noer Ali dikenal dengan banyak julukan, di antaranya Singa Karawang Bekasi dan Belut Karawang Bekasi.

Dijuluki sebagai belut karena beliau sangat “licin” dan tidak mudah ditangkap Belanda. Nama Noer Ali kini diabadikan sebagai nama jalan di Bekasi. Sayangnya, Jalan KH Noer Ali lebih dikenal dengan sebutan Jalan Kalimalang.

….Kenang, kenanglah kami yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi.. ……………….
67 tahun silam tepat nya tangggal 17 Januari 1950 dengan semangat Patriotik, KH Noer Ali memimpin puluhan ribu rakyat Bekasi mengadakan rapat akbar.

Pada tahun 1934, Noer Ali menunaikan Ibadah Haji dan memperdalam ilmu agama di Mekah dan selama 6 tahun bermukim di sana.

Setelah pulang dari Mekah pada tahun 1940, Kiai Noer Ali mendirikan pesantren di kampung halamannya yang bertujuan untuk memajukan umat dari keterbelakangan yang mereka alami. Kiai Noer Ali berkeyakinan bahwa kemajuan umat tidak akan dapat dicapai kecuali hanya dengan pendidikan. KH Noer Ali, adalah seorang ulama yang mendapat gelar pahlawan Nasional pada tanggal 10 November 2006.

Ditulis: KH. Ronggosutrisno Tahir

Pos terkait