Bicara di KTT APEC, Presiden Prabowo Singgung Serakahnomics

JAKARTA | INTIP24 News – Dunia menghadapi ancaman yang tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga moral dan sosial. Ancaman tersebut dalam bentuk keserakahan yang menjadi penghalang utama bagi pertumbuhan yang sejati dan dapat merusak keadilan sosial.

Demikian dikatakan Presiden RI Prabowo Subianto di depan para pemimpin negara anggota Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC), di
Gyeongju, Korea Selatan, Sabtu (1/11/2025).

Prabowo menekankan bahwa saat ini dunia menghadapi berbagai ancaman, tidak hanya di bidang ekonomi, tetapi juga dalam aspek moral dan sosial. Presiden menyampaikan peringatan mengenai bahaya dari ekonomi yang serakah, yang ia sebut sebagai “Serakahnomics,”

Seraya menegaskan ancaman tersebut muncul dalam bentuk keserakahan yang terwujud melalui korupsi, penyelundupan, penipuan, serta ekonomi gelap antar negara.

Bacaan Lainnya

“Kami di Indonesia sedang berjuang melawan korupsi, melawan penipuan, dan melawan ‘greed economies’ (ekonomi serakah), yang menahan pertumbuhan sejati,” kata Prabowo dikutip dari siaran pers, Sabtu (1/11/2025).

Dia juga menyatakan keprihatinan terhadap meningkatnya ketegangan global dan menurunnya rasa saling percaya di antara negara-negara, yang dapat membahayakan stabilitas ekonomi. Namun, ia menekankan bahwa kawasan Asia-Pasifik tidak boleh menyerah pada keadaan ini.

“Asia-Pasifik tidak boleh menerima perpecahan sebagai takdirnya. Kita harus bangkit di atas rasa curiga dan ketakutan, dan kita harus membangun kembali kepercayaan di antara kita dan dalam perekonomian global,” tegasnya.

Menurut Prabowo, APEC didirikan berdasarkan keyakinan bersama akan pentingnya pertumbuhan ekonomi yang inklusif serta kerja sama lintas batas yang adil. Ia menekankan bahwa prinsip ini tidak boleh pudar meskipun dunia sedang menghadapi ketidakpastian.

“APEC memiliki misi inti untuk memfasilitasi perdagangan bebas dan investasi melalui kerja sama multilateral yang berpihak pada rasa kebersamaan di seluruh kawasan. Keyakinan ini harus terus kita pertahankan,” tuturnya.

“Kita tidak boleh membiarkan fragmentasi merusak stabilitas yang telah lama menopang pertumbuhan kita,” sambung Prabowo.

Prabowo menegaskan kembali komitmen Indonesia untuk mendukung sistem perdagangan multilateral yang berlandaskan aturan, dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) sebagai inti dari sistem tersebut.

Dia menekankan bahwa perdagangan bebas seharusnya dijalankan dengan prinsip keadilan dan kesetaraan.
“Indonesia berkomitmen pada sistem perdagangan multilateral berbasis aturan, dengan WTO sebagai pusatnya, agar semua pihak dapat bersaing di atas gelanggang yang setara,” ucap Prabowo.

Melalui pernyataannya, ia menunjukkan pentingnya kerangka kerja yang adil dalam perdagangan global, sehingga semua negara, terutama negara berkembang, dapat merasakan manfaat dari sistem tersebut.

Komitmen ini juga mencerminkan upaya Indonesia untuk berperan aktif dalam menciptakan iklim perdagangan yang lebih baik dan berkelanjutan di tingkat internasional.

Pada pertemuan kali ini, Prabowo mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang mengabaikan sebagian kelompok akan menghasilkan ketimpangan serta meningkatkan kemungkinan terjadinya konflik.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya inklusivitas dan keberlanjutan sebagai prinsip yang harus dipegang bersama dalam pembangunan ekonomi di tingkat global.

Prabowo menyatakan, “Inklusivitas harus menjadi pedoman kita. Keberlanjutan juga harus selalu menjadi kompas bagi masa depan dunia yang aman,” menegaskan bahwa kedua aspek tersebut sangat krusial untuk mencapai kesejahteraan yang merata.

Dalam konteks ini, semua pihak perlu bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan yang adil dan berkelanjutan.





Pos terkait