Tidak hanya itu, Hitler bahkan menyalahkan orang-orang Yahudi atas segala sesuatu yang salah dengan dunia. Ide-ide inilah yang membuka jalan bagi pembunuhan massal orang-orang Yahudi.
Nazi Jerman melaksanakan Holocaust secara bertahap, dimulai dengan pembangunan kamp-kamp pemusnahan yang dilengkapi dengan kamar gas beracun, kemudian dilanjutkan dengan eksperimen medis. Kamp-kamp tersebut didirikan di Auschwitz, Belzec, Che?mno, Jasenovac, Majdanek, Maly Trostenets, Sobibor, dan Treblinka. Pada tahap pengujian, para dokter Nazi menggunakan manusia sebagai subyek dari berbagai eksperimen.
Metode persiapan pemusnahan massal secara sistematis ini belum pernah dilakukan sebelumnya dalam sejarah.
Ketika Jerman menduduki Polandia, puluhan ribu warga Yahudi kemudian dipaksa untuk tinggal di ghetto. Ghetto adalah tempat tinggal khusus bagi orang Yahudi yang cenderung kumuh serta dikelilingi tembok tinggi dan kawat berduri
Antara 1941-1945, Nazi Jerman secara sistematis telah membunuh sekitar enam juta orang Yahudi di seluruh Eropa. Jumlah korban tersebut adalah setara dua pertiga populasi Yahudi di Eropa saat itu, di mana lebih dari satu juta dari mereka yang tewas adalah anak-anak. Selain orang Yahudi, sekitar lima juta orang lainnya juga menjadi target karena alasan rasial, politik, ideologi, dan orientasi seksual. Sehingga, total korban Holocaust diperkirakan mencapai 11 juta jiwa.
Sementara itu, orang-orang yang selamat dari kamp pemusnahan merasa dapat kembali ke rumah karena telah kehilangan keluarga ataupun dikecam oleh tetangga non-Yahudi mereka.
Akibatnya, pada akhir 1940-an, Eropa kebanjiran pengungsi dan tawanan perang. Hal itu memaksa pihak Sekutu untuk menciptakan tanah air bagi orang-orang Yahudi yang selamat dari Holocaust, yang kemudian mengarah pada pembentukan Israel pada 1948.















































