Arsiparis ISI Surakarta Presentasikan Penelitiannya di Simposium Kearsipan Internasional

Surakarta, intip24news.com – Arsiparis Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Wahyu Widyasih, terpilih sebagai salah satu Presenter Call Paper untuk tampil memaparkan hasil riset terbarunya dalam forum ilmiah internasional The 5th International Symposium on Document, Records, and Archives (ISDRA 2026).

Kegiatan ilmiah internasional yang diselenggarakan oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) berkolaborasi dengan Program Studi Pengelolaan Arsip dan Rekod Informasi Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (PARI SV UGM) ini berlangsung di Ballroom Teaching Industry Learning Center (TILC) SV UGM, Yogyakarta, pada Kamis (29/10/2026).

Simposium tahunan ini mempertemukan akademisi, praktisi, professional, dan pemangku kepentingan bidang kearsipan dari berbagai negara untuk mendiskusikan peran strategis dokumen dan arsip dalam merespons serta mendokumentasikan bencana alam.

Dalam sesi Call for Paper, Wahyu Widyasih membawakan naskah ilmiah bertajuk Performative Practices and Archival Preservation of Oral Traditional Arts as Anchors for Community Resilience in the Face of Disasters.

Bacaan Lainnya

Riset tersebut menyoroti realitas pemulihan pascabencana yang selama ini cenderung berfokus pada pembangunan fisik dan bantuan logistik. Padahal, bencana alam juga menghancurkan warisan budaya takbenda —termasuk seni tradisi lisan— yang menjadi wadah memori kolektif masyarakat.

Seni tradisi lisan seperti Smong di Simeulue, penamaan tempat berbasis risiko kebencanaan, hingga wayang bencana bukan sekadar seni pertunjukan estetis, melainkan sistem peringatan dini dan jangkar resiliensi komunitas yang hidup dari generasi ke generasi.

Meski memiliki peran vital, tradisi lisan sangat rentan punah akibat hilangnya ruang kumpul warga pascabencana, pergeseran demografi, maupun siklus bencana berulang yang melampaui daya ingat ingatan harian masyarakat.

Berpijak pada kerangka records continuum theory, penelitian ini menegaskan bahwa ilmu kearsipan memiliki peran kunci untuk menjembatani perlindungan pengetahuan lokal tersebut.

Wahyu merumuskan dua strategi kearsipan terpadu untuk melindungi tradisi lisan kebencanaan. Pertama, arsip partisipatif yang menyerahkan otoritas kuratorial kepada komunitas lokal agar mereka menjadi pemilik sah atas narasi sejarahnya sendiri.

Pendekatan ini dilengkapi dengan gender-separated storytelling circles untuk memastikan suara dan pengamatan lingkungan dari kelompok perempuan tidak terbungkam.

Kedua, Pengarsipan Digital Responsif dengan memanfaatkan teknologi digital yang berpedoman pada prinsip CARE (Collective Benefit, Authority to Control, Responsibility, Ethics) untuk menjamin kedaulatan data adat melalui sistem akses berjenjang.

Ketua Tim Kerja Kearsipan ISI Surakarta, Jamal, S.I.P., M.A., memberikan apresiasi tinggi atas pencapaian ini.

“Keikutsertaan arsiparis ISI Surakarta dalam forum internasional ISDRA 2026 membuktikan bahwa peran arsiparis tidak lagi sekadar mengelola dokumen statis, melainkan mampu memberikan sumbangsih pemikiran strategis dalam penyelamatan memori kolektif bangsa, khususnya warisan budaya takbenda yang rawan punah akibat bencana,” ujarnya.

Langkah penyelamatan ini selaras dengan amanat Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan, yang menempatkan arsip sebagai aset memori kolektif bangsa serta memandatkan lembaga kearsipan negara untuk melakukan penyelamatan dan pelestarian.

Melalui pemaparan ini, ISI Surakarta mengukuhkan kontribusinya dalam pengembangan ilmu kearsipan seni dan budaya di forum internasional.

img Arsiparis ISI Surakarta Presentasikan Penelitiannya di Simposium Kearsipan Internasional

Pos terkait