Kaidah Penulisan Jurnalistik Yang Baik dan Benar, Wartawan Wajib Baca. Oleh: Entong bin Mi’ing

Media interview

INTIP24NEWS – Teknik dan Cara Menulis Berita Jurnalistik yang Baik dan Benar tidak boleh diabaikan bagi seorang insan pers dalam menyusun sebuah tulisan berita dan informasi tentang suatu topik pemberitaan. Baik itu tentang kasus maupun opini, ataupun tulisan dalam bentuk Jurnalisme sastra (sastra jurnalistik).

Penulisan berita yang baik dan benar merupakan modal utama bagi seorang wartawan atau penulis berita, sehingga reportase yang ingin ia sampaikan benar-benar dapat ditangkap oleh para pembaca atau pendengar dengan baik. Berita bukan sekedar dipahami oleh dirinya sendiri dan atau kalangan tertentu saja, tapi sebuah tulisan berita harus mampu menembus ruang pemahaman pembacanya dan pemirsanya.

Ada 6 hal pokok yang menjadi dasar kaidah penulisan berita, yaitu;

Berdasarkan fakta dan kebenaran.

Bacaan Lainnya

Bahasa yang singkat, padat, dan jelas.

Bahasa yang mudah dimengerti.

Berita berisikan 5W+1H (what, when, who, why, where, how)

Struktur piramida terbalik (mendahulukan informasi terpenting sebelum informasi tambahan)

Memperhatikan tanda baca.

Dalam literatur jurnalistik, berita adalah informasi atau laporan peristiwa aktual yang mengandung nilai berita (news values). Ia juga merupakan cara menyusun laporan atau informasi aktual tentang suatu peristiwa atau masalah untuk dipublikasikan di media massa, baik online digital maupun cetak konvensional.

Berdasarkan Nilai Berita maka Tidak semua berita dapat dipublikasikan atau “layak muat’ (fit to print, fit to broadcast). Untuk dapat dipublikasikan di media, sebuah berita haruslah memenuhi karateristik yang dikenal dengan “nilai- nilai berita”.

Nilai berita digunakan untuk mengukur layak tidaknya suatu tulisan diangkat menjadi berita. Semakin tinggi nilai berita yang dikandung dalam sebuah peristiwa semakin kuat peristiwa tersebut diangkat sebagai berita. Sebaliknya, semakin rendah nilai beritanya semakin rendah pula peristiwa tersebut dianggkat sebagai berita. Jadi nilai berita menjadi tolak ukur layak atau tidaknya sebuah berita ditayangkan atau diterbitkan.

Ada empat nilai berita yaitu :

1. Cepat, yaitu aktual atau ketepatan waktu. Berita adalah sesuatu yang baru (new).

2. Nyata, yaitu informasi tentang sebuah fakta (fact) yang terdiri dari kejadian nyata, pendapat, dan pernyatan sumber berita.

3. Penting, yaitu menyangkut kepentingan orang banyak.

4. Menarik, yaitu mengundang orang untuk membaca berita yang kita tulis.

5. Jenius Perkenalkan Akun Bisnis Jenius

Nilai berita lainnya antara lain peristiwa yang dekat dengan khalayak, berpengaruh terhadap hidup orang banyak atau dampak dari peristiwa itu ke masyarakat, melibatkan orang-orang terkenal atau ketokohan orang yang terlibat dalam peristiwa tersebut, menyangkut hal-hal luar biasa atau hal biasa tetapi menumbuhkan rasa simpati, empati, iba, atau menggugah, serta aktual dan baru terjadi.

Unsur- Unsur Berita

Sebuah berita dinyatakan sempurna dan layak tayang apabila telah memenuhi unsur-unsur berita yang dikenal dengan 5W+1H. Apa itu 5W+1H? Ini dia penjelasannya;

• What = Apa yang terjadi

• Where = Di mana hal itu terjadi

• When = Kapan peristiwa itu terjadi

• Who = Siapa yang terlibat dalam kejadian itu

• Why = Kenapa hal itu terjadi

• How = Bagaimana peristiwa itu terjadi

Struktur Naskah Berita
Suatu berita memiliki struktur berita yang terdiri dari:

1. Judul berita (Head)

2. Teras berita (Lead)

3. Isi berita (Body)

Agar seorang penulis tidak kehilangan makna tujuan dari tulisannya, baiknya ia perhatikan betul kaidah penulisan jurnalistik berikut ini.

Judul Berita

Terkadang wartawan membuat Judul Berita dengan kalimat yang panjang, mirip dengan sebuah alenia. Padahal, judul berita harus ringkas (antara 3-5 kata), mencerminkan isi, menarik, dan sebaiknya berupa kalimat aktif yang terdiri dari Subjek + Predikat + Objek (SPO):

Contoh: Gubernur Jabar (Subyek) Diminta Segera Lantik (Predikat) Wakil Bupati Terpilih (Obyek).

Judul yang benar, selain lebih menarik, juga membantu calon pembaca menemukan berita tersebut ketika mencari informasi di Google. Dalam penulisan judul, perhatikan peraturan-peraturan berikut:

Jangan menggunakan huruf kapital (huruf besar) semua, tapi gunakan kapital sesuai penggunaan dalam judul, seperti contoh ini:

SALAH: KOTA BOGOR RAYAKAN HARI ULANG TAHUN KE-1000

BENAR: Kota Bogor Rayakan Hari Ulang Tahun ke-1000
Catatan: Perhatikan bahwa huruf depan setiap kata dalam judul menggunakan kapital, kecuali kata-kata sambung seperti: di, ke, dengan, dan

Berikan judul yang lebih merinci tentang peristiwa dan tempat kejadian, seperti contoh:

SALAH: Seorang Bocah Jatuh ke Sumur
BENAR: Orangtua Lengah, Bocah 3 Tahun Jatuh ke Sumur

SALAH: Sebuah Truk Tangki Terguling
BENAR: Rem Blong, Truk Tangki Pertamina Terguling di Galuga

Kalau menyampaikan opini narasumber, cantumkan narasumber dalam judul, seperti contoh:

SALAH: Walikota Bogor Sesat Konstitusi
BENAR: Aktivis Mahasiswa: “Walikota Bogor Sesat Konstitusi”

SALAH: Kinerja Pemkab Bogor Jauh di Bawah Harapan
BENAR: Anggap Infrastruktur Masih Berantakan, FMBB Beri Rapor Merah Kinerja Pemkab Bogor

Teras Berita (Lead)

Teras berita adalah alinea atau paragraf pertama naskah berita setelah judul. Teras berita yang bagus tidak lebih dari 30-35 kata atau tiga barisan ketikan.

Cara menulis teras berita antara lain menyusun unsur berita (5W+1H), terutama menempatkan unsur WHO dan WHAT di awal kalimat dan unsur WHEN dan WHERE di akhir kalimat. Unsur WHY dan HOW ditempatkan di tubuh berita (body).

Misalnya: Pemda Kabupaten Bekasi adakan vaksinasi gratis di Taman Aster, Minggu (31/12/2021).

Dalam menulis Berita yang Baik dan Benar, Seorang wartawan juga harus memperhatikan Etika Menulis Berita.

Apa saja yang termasuk etika menulis berita? Simak ulasannya di baawah ini.

1. Objektif

Seorang wartawan harus menjaga jarak dengan peristiwa yang diangkatnya sebagai berita. Dengan demikian seorang wartawan dilarang melibatkan kepentingan pribadi, opini pribadi dan pandangan subyektif atas peristiwa.

Tulisan berita harus faktual atau dituliskan berdasarkan fakta dan data yang benar- benar ditemukan dilapangan.

2. Cover both side, Balance

Tulisan harus seimbang (balance) dan berusaha mencantumkan semua pihak yang terlibat dalam peristiwa. Secara umum, penulisan berita harus mematuhi kode etik jurnalistik sebagai etika profesi wartawan.

Setelah mengetahui dasar dari berita dan hal-hal yang mendukung sebuah berita bisa dianggap berita layak tayang. Mari dilanjutkan membahas Teknik Menulis Berita.

Berikut Tahapan dari teknik menulis berita, apa saja?

1. Fact Organizing, Pengorganisasian Fakta.

Yaitu pengorganisasian/ pengumpulan fakta oleh wartawan yamg akan menulis berita.Apakah itu hasil interview, kejadian langsung, ataupun menggunakan data- data tertulis yang telah tersedia.

2. Lead Decission, Memutuskan Teras Berita.

Yaitu penentuan lead untuk teras berita. Ingat, gagal menentukan lead, bisa berarti gagal menulis berita

3. Word Selection, Pemilihan Kata.

Yaitu pemilihan kata- kata yang cocok, untuk mendukung penulisan berita, usahakan alur yang runtut, jangan melompat- lompat sehingga dapat mengganggu pemahaman pembaca.

Kaidah Pengetikan

Penggunaan Huruf Kapital

Huruf kapital, atau huruf besar, hanya digunakan untuk huruf pertama kalimat, nama orang, nama tempat atau institusi, judul atau tema dari sebuah acara dan singkatan (seperti RT, RW, SMK, SMA dan sebagainya).

Huruf kapital tidak digunakan untuk mengawali angka-angka.

Dalam kata-kata akronim (seperti Polsek, Polda, Kapolsek, Kepsek, Kadiv humas dan sebagainya), cukup huruf pertama dijadikan kapital.

Penggunaan Spasi

Dalam mengetik berita, perhatikan standar dalam penggunaan spasi.

Gunakan spasi setelah tanda baca, seperti koma, titik, tanda kurung, tanda kutip (kecuali tanda kutip pembuka) dan titik dua.

Penggunaan Tanda Kutip

Tanda kutip harus selalu digunakanapabila mengutip pembicaraan atau Press Release. Gunakan tanda kutip pembuka dan penutup, dan tanda koma atau titik harus selalu berada sebelum tanda kutip penutup, seperti ini:

“Kami akan lakukan pemeriksaan lebih lanjut,” ujarnya.

Presiden juga mengatakan bahwa pihaknya akan “terus mengupayakan pelepasan sandera lainnya.”

Penggunaan Titik dan Koma

Salah penggunaan titik dan koma bisa berakibat fatal ketika apa yang difahami oleh pembaca  berbeda dengan apa yang dimaksud oleh wartawan. Maka gunakan titik dan koma sesuai penggunaan benarnya.

Penggunaan kata “di”

Kata “di” masih seringkali salah penggunaannya. Harus diingat bahwa “di” dan kata benda atau tempat selalu dipisah, dan “di” dengan kata kerja selalu disambung, contohnya:

Kata benda/tempat: di Bogor, di tempat, di rumahnya, di atas, di depan, di dalam.

Kata kerja: diingat, dijatuhkan, dibuka, ditutup, dirinci, dilantik.

Pencantuman Gelar dan Pangkat

Dalam pemberitaan standar, biasanya gelar pendidikan tidak dicantumkan, sedangkan pangkat polisi atau militer dicantumkan. Baik dicantumkan atau tidak, gelar atau pangkat tersebut hanya perlu dicantumkan pada penulisan pertama saja, dan tidak diulang lagi, contohnya:

Kapolri Jenderal Badrodin Haiti menaikkan pangkat 20 perwira tinggi kepolisian di Mabes Polri, Selasa 12/4.  Pada acara pelantikan tersebut, Kapolri menegaskan…

Kepala BNPT Irjen Pol Tito Karnavian mengatakan pihaknya masih mengupayakan penangkapan gembong teroris Santoso. Tito juga menjelaskan bahwa saat ini kelompok Santoso sudah terisolasi.

Contoh lainnya: Presiden Joko Widodo (tidak perlu mencantumkan Ir. H. Joko Widodo), anggota DPR Ruhut Sitompul (tidak perlu mencantumkan gelar SH) dan sebagainya.

Ada kalanya gelar pendidikan dicantum, seperti dalam profil atau periklanan, untuk mengangkat nama seorang figur

Demikianlah Teknik dan Cara Menulis Berita Jurnalistik yang Baik dan Benar, Semoga artikel di atas bermanfaat. (HM)

Pos terkait