Mereka Pernah Salah Langkah, Hari Ini Mereka Belajar Bongkar HP Bukan Bongkar Masa Depan

Bantul, intip24news.com –

Kamis (5/11/2026), suasana di Joglo Ngaji, Ngaglik, Pendowoharjo, Sewon, Bantul terasa berbeda. Bukan pengajian biasa. Bukan pula kumpul-kumpul warga.

Di joglo itu, 15 orang duduk melingkar. Di depan mereka tergeletak obeng-obeng kecil, pinset, dan puluhan HP rusak yang siap dibongkar. Tangan mereka yang dulu mungkin sempat salah arah, hari ini belajar dengan teliti membuka baut-baut kecil sebuah telepon seluler.

Mereka adalah 15 Klien Pemasyarakatan Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Wonosari.

Bacaan Lainnya

Hari itu mereka tidak datang sebagai orang yang diawasi. Mereka datang sebagai peserta pelatihan, sebagai calon teknisi HP, sebagai calon pengusaha jasa servis.

Kegiatan ini bertajuk Bimbingan Kemandirian Pelatihan Service HP , hasil kerja sama Bapas Wonosari dengan Kelompok Masyarakat Peduli Pemasyarakatan (Pokmas) Majelis Istiqomah Hijrah.

Pelatihan dibuka oleh Kepala Subseksi Bimbingan Klien Anak (Kasubsi BKA) Bapas Kelas II Wonosari, Eka Ari Wibawa.

Dalam sambutannya, Eka menyampaikan pesan yang begitu dalam: pembimbingan bukan hanya soal mengawasi agar klien tidak mengulangi kesalahan, tapi soal memberi jalan agar klien bisa hidup mandiri.

“HP itu sekarang kebutuhan semua orang. Kalau HP rusak, semua orang panik. Di situlah peluangnya. Kami ingin klien kami bisa melihat peluang itu, bukan hanya melihat masa lalunya,” ujar Eka.

Dan memang benar Bos ku. Di zaman sekarang, hampir semua orang pegang HP. HP jatuh, HP mati total, HP kena air, HP lupa pola – itu kejadian setiap hari. Artinya, tukang servis HP tidak akan pernah kehabisan pelanggan.

Bapas Wonosari melihat itu. Bukan sebagai bisnis semata, tapi sebagai jalan pulang yang bermartabat bagi kliennya.

Belajar dari Anatomi HP, Belajar Menghargai Proses

Pelatihan dipandu langsung oleh Hery Ananto dari Pokmas Majelis Istiqomah Hijrah.

Hery tidak langsung menyuruh peserta membongkar HP. Ia mengajak mereka memahami dulu anatomi telepon seluler – apa itu mesin, apa itu LCD, apa itu baterai, apa itu fleksibel, dan apa fungsi masing-masing komponen.

“Melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya diperkenalkan pada bagian-bagian telepon seluler, tetapi juga diajak memahami fungsi komponen serta dasar-dasar penanganan kerusakan. Pengetahuan tersebut menjadi bekal awal untuk mempelajari keterampilan servis HP,” jelas Hery dalam materinya.

Peserta juga dikenalkan dengan alat dan bahan servis: obeng presisi, pinset, blower, cairan pembersih, hingga cara memegang HP agar tidak merusak komponen lain.

Materi disampaikan bertahap, pelan-pelan, agar mudah dipahami. Karena Hery paham, tidak semua peserta punya latar belakang teknis. Ada yang baru pertama kali memegang obeng servis HP seumur hidupnya.

Setelah teori, masuk ke sesi yang paling ditunggu: praktik servis ringan dan tanya jawab.

Di sinilah suasana menjadi hidup Bos ku. Ada yang bertanya, “Pak, kalau HP kemasukan air, apa yang pertama dilakukan?” Ada yang penasaran, “Kalau HP mati tapi dicas tidak respon, apanya yang rusak?”

Satu per satu pertanyaan dijawab dengan sabar. Satu per satu HP rusak mulai dibongkar, diamati, dan dicoba diperbaiki.

Tangan-tangan yang awalnya gemetar memegang obeng kecil, lama-lama mulai luwes. Mata yang awalnya bingung melihat mesin HP, lama-lama mulai paham alurnya.

Screenshot_20261107_065539-375x250 Mereka Pernah Salah Langkah, Hari Ini Mereka Belajar Bongkar HP Bukan Bongkar Masa Depan

Mereka belajar bahwa sesuatu yang rusak tidak harus dibuang. Sesuatu yang rusak bisa diperbaiki, asal tahu caranya dan mau sabar.

Sama seperti hidup mereka. Mereka pernah rusak, pernah jatuh, tapi bukan berarti harus dibuang oleh masyarakat. Mereka bisa diperbaiki, bisa dibina, bisa kembali berfungsi.

Yang membuat kegiatan ini istimewa adalah kolaborasinya.

Bapas tidak berjalan sendiri. Masyarakat ikut turun tangan lewat Pokmas Majelis Istiqomah Hijrah. Joglo Ngaji dibuka untuk mereka. Ilmu dibagikan tanpa pamrih.

Ini adalah bentuk nyata dari reintegrasi sosial . Masyarakat tidak lagi hanya menjadi penonton yang menghakimi, tapi menjadi bagian dari proses perubahan.

Ketika masyarakat mau mengajari, mau mendampingi, mau memberi kesempatan kedua, saat itulah klien benar-benar merasa diterima kembali.

Di akhir kegiatan, 15 klien itu pulang tidak membawa sertifikat mewah. Mereka pulang membawa sesuatu yang jauh lebih berharga: pengetahuan dasar servis HP dan keberanian untuk bermimpi.

Dengan keterampilan ini, mereka punya banyak pilihan Bos ku:

  • Bisa buka jasa servis HP kecil-kecilan di rumah
  • Bisa ikut kerja di konter HP
  • Bisa jadi teknisi panggilan di kampungnya
  • Bisa lanjut belajar lebih dalam sampai jadi ahli servis level lanjut

Modalnya tidak harus besar. Cukup obeng set, pinset, dan kemauan belajar. Pelanggannya ada di mana-mana.

IMG-20261107-WA0012-375x250 Mereka Pernah Salah Langkah, Hari Ini Mereka Belajar Bongkar HP Bukan Bongkar Masa Depan

Bapas Wonosari berharap, keterampilan ini terus dikembangkan dan diterapkan setelah pelatihan. Bukan hanya berhenti di Joglo Ngaji hari itu saja.

Karena pada akhirnya, tujuan dari semua ini bukan sekadar membuat 15 orang bisa servis HP. Tujuannya adalah membuat 15 orang itu tidak kembali mengulangi kesalahan, bisa menghidupi keluarganya dengan cara yang halal, dan bisa berdiri tegak di tengah masyarakat.

Dari sebuah joglo sederhana di Sewon, Bantul, dari obeng-obeng kecil dan HP-HP rusak, 15 harapan baru telah tumbuh.

Harapan bahwa masa depan masih bisa diperbaiki – sama seperti HP yang rusak, yang ternyata masih bisa menyala lagi jika ditangani dengan sabar dan dengan ilmu.

(Redaksi Intip 24 News)

Pos terkait