Gunungkidul, intip24news.com – Aroma rempah menguat dari sebuah pendopo sederhana di KWT Melati, Susukan 1, Genjahan, Ponjong, Gunungkidul, Rabu (4/11/2026) Pukul 09.00 WIB.
Bukan aroma dari dapur hajatan. Bukan pula dari warung makan.
Aroma itu datang dari wajan-wajan besar tempat delapan orang tengah belajar sesuatu yang mungkin akan mengubah jalan hidup mereka: membuat abon sapi.
Mereka bukan koki profesional. Mereka bukan pelaku UMKM. Mereka adalah delapan Klien Pemasyarakatan Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Wonosari – orang-orang yang pernah tersandung masalah hukum, pernah jatuh, dan kini sedang berusaha bangkit untuk kembali diterima masyarakat.
Hari itu, mereka tidak datang sebagai “mantan napi”. Mereka datang sebagai peserta pelatihan, sebagai calon pengusaha.
Kegiatan ini bertajuk Bimbingan Kemandirian Pelatihan Pembuatan Abon Sapi. Namun bagi delapan klien itu, maknanya jauh lebih dalam dari sekadar judul kegiatan.
Kepala Bapas Kelas II Wonosari,
Andi Gafriana Mutiah, Amd.IP, SH. MH yang membuka langsung kegiatan itu, menyampaikan pesan yang begitu humanis.
Menurutnya, pembinaan tidak boleh berhenti hanya pada pengawasan. Pembinaan harus memberi bekal.
“Kami tidak ingin klien kami hanya selesai menjalani masa pembimbingan, lalu bingung mau apa. Kami ingin saat mereka pulang ke masyarakat, mereka sudah punya keterampilan di tangan, punya harapan di dada, dan punya cara untuk menghidupi keluarganya dengan cara yang halal,” ujar Andi.
Kalimat itu sederhana, tapi bagi delapan klien yang hadir, kalimat itu adalah sebuah pintu baru.
Selama ini, stigma menjadi beban paling berat. Sulit mencari kerja karena masa lalu. Sulit membuka usaha karena tidak punya modal keterampilan. Pelatihan ini hadir untuk memutus rantai itu.
Pelatihan dipandu oleh narasumber Guntaryati. Ia tidak langsung menyuruh peserta memasak. Ia mengajak mereka memahami dulu filosofi di balik abon sapi yang enak.
Pertama, peserta diajari cara memilih daging sapi yang berkualitas. Daging yang baik, kata Guntaryati, adalah awal dari produk yang baik. Sama seperti hidup, bahan yang baik akan menentukan hasil yang baik.
Kedua, peserta belajar standardisasi resep. Takaran bumbu harus pas, tidak boleh asal. Ada komposisi rempah, ada takaran santan, ada waktu memasak yang harus ditaati. Di sini peserta belajar disiplin dan ketelitian – dua hal yang selama ini mungkin sempat hilang dari hidup mereka.
Baru setelah itu, mereka masuk ke dapur praktik.
Tangannya yang dulu mungkin kaku, hari itu mulai sibuk. Ada yang membersihkan daging. Ada yang merebus daging bersama daun salam dan serai untuk menghilangkan aroma amis. Ada yang memotong daging searah serat, lalu menyuwirnya hingga halus dengan sabar.

Proses menyuwir daging itu ternyata bukan pekerjaan sepele . Butuh kesabaran. Butuh ketelatenan. Dan di situlah nilai humanisnya: mereka belajar bahwa sesuatu yang baik tidak bisa instan, harus disuwir pelan-pelan, diolah dengan sabar, hingga akhirnya menjadi sesuatu yang bernilai.
Suwiran daging itu kemudian dicampur dengan racikan bumbu dan santan, lalu dimasak di atas api hingga bumbu meresap dan teksturnya mengering menjadi abon yang gurih, harum, dan siap jual.
Saat abon pertama matang dan dicicipi bersama, senyum merekah di wajah mereka. Senyum yang mungkin sudah lama tidak mereka rasakan: senyum bangga karena telah menghasilkan sesuatu dengan tangannya sendiri.
Kegiatan ini turut dihadiri pejabat manajerial dan pegawai Bapas Wonosari, petugas Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Yogyakarta, serta peserta magang Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker).
Namun yang paling terasa adalah suasana kekeluargaannya. Tidak ada sekat antara petugas dan klien. Semua membaur, semua ikut mencicipi, semua ikut tertawa.

Bagi Bapas Wonosari, abon sapi dipilih bukan tanpa alasan. Abon adalah produk yang tahan lama, mudah dikemas, mudah dipasarkan, dan punya nilai jual tinggi. Modalnya tidak harus besar. Bisa dimulai dari dapur rumah. Bisa dititipkan di warung. Bisa dijual secara online.
Artinya, delapan klien ini pulang tidak hanya membawa sebungkus abon sapi hasil praktik. Mereka pulang membawa Sebuah ide usaha, sebuah harapan ekonomi, dan sebuah alasan untuk tidak kembali mengulangi kesalahan.
Di akhir kegiatan, satu hal yang paling ditekankan adalah reintegrasi sosial.m
Reintegrasi bukan sekadar klien kembali ke rumah. Reintegrasi adalah saat masyarakat mau kembali menerima mereka, memberi kesempatan kedua, dan melihat mereka bukan lagi dari masa lalunya, tapi dari apa yang mereka usahakan hari ini.
Pelatihan ini adalah jembatan itu. Ketika nanti salah satu dari mereka membuka usaha abon sapi di desanya, dan tetangganya membeli, saat itulah reintegrasi benar-benar terjadi. Saat masyarakat membeli karyanya, bukan menghakimi masa lalunya.
Delapan orang itu hari ini pulang dengan tangan berbau rempah dan baju berbau asap wajan. Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang baru menyala: keyakinan bahwa hidup kedua masih mungkin.
Bahwa dari sebuah wajan abon sapi di Ponjong, masa depan yang lebih baik bisa mulai dimasak pelan-pelan, dengan sabar, hingga akhirnya matang dan harum.
(Redaksi Intip pri)







































