Selama sepekan ini, Israel juga telah menjatuhkan fosfor putih yang dilarang secara internasional kepada warga sipil di Gaza. Ini meratakan seluruh lingkungan pemukiman. Menghapuskan banyak keluarga dari daftar populasi, dan membunuh lebih dari 1.500 warga Palestina dan sepertiganya adalah anak-anak.
Warga Palestina telah berteriak sekuat tenaga selama berhari-hari bahwa Israel melakukan genosida terhadap mereka.
Namun PBB mengatakan mereka menerima perintah yang berbeda dan lebih luas, dengan mengatakan Israel memberi tenggat waktu 24 jam kepada 1,1 juta warga sipil di Gaza utara untuk melarikan diri ke selatan.
Seorang juru bicara PBB menyebut perintah tersebut tidak mungkin dicapai tanpa konsekuensi terhadap krisis kemanusiaan yang akan timbul.
Para pemimpin Israel menyebut warga Gaza sebagai “manusia hewan” dan berjanji untuk “menghapus Hamas dari muka bumi.”
Tentara Israel dilaporkan memerintahkan warga Gaza untuk tidak kembali ke utara sampai tentara Israel mengizinkan mereka kembali
Tapi apakah mereka akan diizinkan kembali?
Dan akankah masih ada lagi Gaza yang bisa dikunjungi kembali?
Tidak ada yang tahu apa rencana Israel ketika batas waktu 24 jam berakhir. Akankah mereka melancarkan invasi darat? Atau akankah mereka menghancurkan Gaza dari udara seperti yang telah mereka lakukan selama 16 tahun terakhir?
Apa pun cara yang diambil Israel, itu tidak masalah. Yang penting adalah Israel, dengan dukungan Amerika Serikat, melakukan genosida tepat di depan mata kita.
Hal ini merupakan keberlanjutan yang telah berlangsung selama 75 tahun. Tidak adanya tindakan global selama 75 tahun dan impunitas Israel telah menyebabkan terjadinya momen ini.
Banyak warga Gaza yang bersumpah untuk tetap tinggal, dan mengatakan bahwa mereka menolak untuk mengungsi lagi.
Mereka mengatakan bahwa ini adalah perang psikologis, mirip dengan siaran radio Zionis 75 tahun yang lalu, yang menyebarkan ketakutan di kalangan penduduk dan menyebabkan banyak orang meninggalkan rumah mereka karena takut akan kekejaman Zionis yang akan menanti mereka jika mereka tetap tinggal di sana.
Namun gambaran tersebut sudah membanjiri masyarakat di Gaza ketika mereka mulai meninggalkan rumah mereka karena takut akan apa yang akan terjadi.
Pria, wanita, dan anak-anak, berjalan melewati reruntuhan tanah mereka yang hancur, sambil memegang tas dan barang apa pun yang dapat mereka bawa.
Sebuah perjalanan ke selatan, tidak mengetahui apakah besok, selatan pun akan menjadi yang berikutnya.
Hingga tulisan ini ditayangkan, kondisi di Gaza dalam kondisi mencekam. Beberapa kepala negara memberikan pernyataan agar Israel menghentikan upaya yang mengarah kepada genocida.
Namun pemimpin negara zionis Benyamin Netanyahu mengatakan bahwa apa yang dilakukannya adalah awal, dan mereka (Hamas) telah membayar dari akibat serangan yang menelan sedikitnya 1000 warganya tewas pada Sabtu pekan lalu.
Dilaporkan juga, Amerika Serikat dan Inggris telah mengirim armada tempurnya untuk membantu negara yahudi itu.
Apakah dunia akan tetap tak bergeming menyaksikan pembantaian paling mutakhir pasca perang dunia ke II ini. Ataukah konflk ini akan meluas dan menjadi penentu dari akhir perseteruan Arab dan Israel.
Editor: Hasan M




















































