INTIP24 News – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengecam Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan memperingatkan bahwa umat Islam akan segera memberinya “pelajaran.”
Pernyataan tersebut disampaikan Erdogan saat perayaan Idul Adha di kampung halamannya di Rize, di mana ia menyerukan persatuan umat Islam dan memberikan tekanan pada Israel.
“Apa yang terjadi di Palestina, di Gaza, memberi kita sikap khusus, kewaspadaan khusus pada Idul Adha ini. Insya Allah, tiran Netanyahu ini akan segera mengambil pelajaran yang layak diterimanya dari umat Islam di dunia,” katanya, dikutip kantor berita Anadolu.
Komentar tersebut muncul beberapa hari setelah Israel menahan ratusan aktivis dari armada kapal tujuan Gaza, yang berangkat dari Türkiye membawa bantuan kemanusiaan dan aktivis pro-Palestina yang berusaha menantang blokade Israel terhadap wilayah kantong tersebut.
Erdogan mencap intersepsi tersebut sebagai “pembajakan dan bandit.”
Ankara telah berupaya mendukung warga Palestina dengan bantuan kemanusiaan, lobi diplomatik, inisiatif gencatan senjata, dan upaya hukum terkait Gaza.
Erdogan merupakan salah satu kritikus paling vokal terhadap kampanye militer Israel di Gaza sejak dimulai pada tahun 2023, ia menuduh Israel melakukan “genosida” dan “terorisme negara” terhadap warga Palestina, sambil membandingkan pemerintah Israel dengan Nazi.
Pada bulan Juli 2024, sepuluh bulan setelah konflik, Erdogan mengatakan Türkiye dapat bertindak melawan Israel “seperti” yang dilakukan di Libya dan Nagorno-Karabakh, yang secara luas ditafsirkan oleh media dan pejabat Israel sebagai ancaman intervensi militer.
Para pejabat Israel semakin menggambarkan Türkiye sebagai ancaman regional. Menyusul pernyataan Erdogan pada tahun 2024, Menteri Luar Negeri Israel Israel Katz membandingkan pemimpin Turki tersebut dengan Saddam Hussein dari Irak, dan memperingatkannya untuk “mengingat apa yang terjadi di sana dan bagaimana hal itu berakhir.”
Awal tahun ini, mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett mengatakan Turki bisa menjadi musuh regional utama Israel, menjadikannya “Iran berikutnya”.
Namun demikian, analis politik Turki, Kerim Has, menggambarkan meningkatnya retorika antara pemimpin Turki dan Israel sebagai “pertunjukan teatrikal” yang bertujuan mengalihkan perhatian masyarakat domestik dari masalah internal.
Ia juga menyebutkan hubungan ekonomi antara kedua negara, dan mencatat bahwa Türkiye menyediakan transit minyak Azerbaijan ke Israel, yang dilaporkan memenuhi 60% kebutuhan minyak mentah negara Yahudi tersebut.
Source: Anadolu
Editor: Hasan Munawar


















































