Menurut history.state.gov, Amerika Serikat (AS) mencari jalan tengah dengan mendukung resolusi PBB, tetapi juga mendorong negosiasi antara orang Arab dan Yahudi di Timur Tengah.
Resolusi PBB tersebut memicu konflik antara kelompok-kelompok Yahudi dan Arab di Palestina. Orang Arab Palestina menolak resolusi itu, yang mereka anggap menguntungkan orang Yahudi dan tidak adil bagi penduduk Arab yang akan tetap berada di wilayah Yahudi di bawah partisi.
Pertempuran dimulai dengan serangan oleh sekelompok orang Arab Palestina yang terikat pada unit lokal Tentara Pembebasan Arab. Mereka terdiri dari relawan asal Palestina dan negara-negara tetangga Arab, lalu melancarkan serangan terhadap kota, permakaman, serta angkatan bersenjata Yahudi.
Sementara itu pasukan Yahudi terdiri dari berbagai milisi seperti Haganah, Irgun, dan LEHI. Orang Arab ingin memblokir Resolusi Pemisahan dan mencegah berdirinya negara Yahudi.
Sebaliknya masyarakat Yahudi hendak mengambil kendali lagi atas wilayah yang diberikan kepada mereka dalam Rencana Partisi. Pada 15 Mei 1948 pecahlah perang Arab-Israel I. Sebanyak 700 orang Lebanon, 1.876 orang Suriah, 4.000 orang Irak, dan 2.800 orang Mesir menyerbu Palestina.
















































