Sejarah Negara Israel, Konflik dan Perseteruan dengan Bangsa Palestina (Bag I)

Meski hidup di bawah penjajahan bangsa Turki, kehidupan di kawasan ini bisa dikatakan jauh dari konflik dan kekerasan.

Sementara itu, jauh di Benua Biru, warga Yahudi yang banyak tersebar di Eropa Tengah dan Eropa Timur sudah sejak lama memimpikan “kembali ke Zion.”

Sederhananya, mereka berkeinginan kembali ke tanah yang dijanjikan Tuhan. Imigrasi ke Palestina atau yang mereka sebut sebagai Tanah Israel sudah dilakukan.

Tapi, prosesnya baru secara individual atau kelompok-kelompok kecil. Sementara niat mendirikan sebuah negara Yahudi ketika itu belum tebersit.

Bacaan Lainnya

Kondisinya berubah sekitar 1859-1880, ketika gelombang anti-Semit mulai melanda Eropa dan Rusia. Inilah yang memicu terbentuknya Gerakan Zionisme pada 1897.

Gerakan itu menginginkan pembentukan sebuah negara Yahudi sebagai suaka, untuk semua bangsa Yahudi di berbagai pelosok dunia. Kelompok ini pernah mempertimbangkan beberapa lokasi di Afrika dan Amerika sebelum akhirnya memilih Palestina sebagai tujuan akhir.

Gerakan Zionisme yang didukung Dana Nasional Yahudi kemudian mendanai pembelian tanah di Palestina yang masih menjadi jajahan Ottoman Turki, untuk pembangunan permukiman para imigran Yahudi.

Gelombang imigrasi Yahudi setelah terbentuknya Organisasi Zionis Dunia kini menjadi lebih terorganisasi. Tujuannya semakin jelas pada masa mendatang.

Awalnya, imigrasi warga Yahudi dari Eropa ke Palestina tidak menimbulkan masalah di kawasan tersebut. Namun, dengan semakin banyaknya imigran Yahudi yang datang, semakin banyak pula tanah yang dibutuhkan untuk pembangunan permukiman. Konflik dan sengketa perebutan tanah tak jarang terjadi di antara kedua bangsa ini.

Semakin meningkatnya jumlah imigran Yahudi di Palestina ternyata juga membuat Kekaisaran Ottoman khawatir.

Alasannya karena kebanyakan imigran Yahudi itu datang dari Rusia, yang merupakan musuh utama Ottoman dalam perebutan kekuasaan di kawasan Balkan. Ottoman khawatir, para pendatang Yahudi dari Rusia ini akan menjadi perpanjangan tangan negeri asalnya untuk melemahkan kekuasaan Ottoman di Timur Tengah.

Pos terkait