Mengenai kemungkinan masuknya Hizbullah (sebuah kelompok Syiah di Lebanon dan pada dasarnya merupakan proksi Iran) ke dalam pertempuran di pihak Hamas, hal ini tentu saja dapat memperumit situasi Israel secara keseluruhan.
Namun pada saat yang sama, kemampuan tempur Hizbullah tidak boleh dilebih-lebihkan.
Dalam konflik bersenjata di Suriah, mereka belum terbukti menjadi kekuatan militer yang tangguh, hal yang sangat disadari oleh para ahli militer Rusia.
Masalah yang lebih penting dan kompleks bagi tentara Israel adalah bahwa di Gaza yang berpenduduk padat, hampir tidak mungkin memisahkan sasaran Hamas dari warga sipil, terutama karena teroris menggunakan penduduk tersebut sebagai tameng manusia.
Para pemimpin Israel harus se-kategoris mungkin mengenai tujuan strategis konflik ini.
Tidak diragukan lagi bahwa kekuatan mereka yang berteknologi tinggi dan modern mampu mengalahkan formasi Hamas secara langsung.
IDF telah merebut kembali kendali atas semua wilayah dan pusat populasi yang sebelumnya direbut oleh teroris.
Namun kecil kemungkinannya konflik akan berakhir jika militer Israel tertinggal di perbatasan.
Bagaimanapun, harus ada godaan untuk menimbulkan kerugian besar pada formasi Hamas sehingga gerakan tersebut melupakan perjuangan bersenjata apa pun selama bertahun-tahun.
Oleh karena itu, senjata IDF yang paling canggih, termasuk bom penghancur bunker yang kuat, akan segera digunakan.
Selain itu, Israel harus memulihkan tawanan perang dan sanderanya.
Ini berarti bahwa operasi militer umum di Gaza (para ahli politik biasanya menyebutnya operasi darat) akan dimulai kapan saja.
Dengan demikian, tidak menutup kemungkinan seluruh wilayah eksklave Palestina akan segera dikuasai Israel.
Apakah serangan Hamas kali ini membuktikan ramalan Baba Vanga?




















































