Pertukaran pendapat dan gagasan antar komponen anak bangsa dibutuhkan dan sangat perlu dalam menentukan langkah ke mana bangsa ini kedepan. Membenturkan pemikiran antar satu dengan yang lain dalam kerangka untuk mendapatkan percikan gagasan pemikiran yang mana kemudian percikan benturan itu menjadi ‘Konsep Kebersamaan‘.
Suatu konsep dasar untuk menentukan kebenaran gagasan membangun sesuatu yang BERNILAI STRATEGIS BAGI BANGSA DAN NEGARA. Ternasuk salah satunya adalah Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara itu …!
Tanpa harus mempertentangkan gagasan dan pemikiran, untuk hal yang sangat strategis bagi bangsa dan negara, entah apa yang akan terjadi kemudian.
Soal perpindahan Ibu Kota Negara ‘dari dan ke’ ini perihal yang sangat strategis, padanya melekat perkara yang sangat mendasar bagi integritas, martabat dan sejarah bangsa serta kebangsaan itu sendiri.
Oleh karenanya, soal perpindahan Ibu Kota Negara Indonesia, gagasan dan pemikiran siapapun harus diapresiasi, lantaran ini, sekali lagi, merupakan gagasan besar dan sangat strategis.
Katakan jika gagasan IKN Nusantara ini adalah pemikiran presiden Joko Widodo (Jokowi), maka presiden Jokowi, terlepas dari segala kekurangannya, layak diacungi jempol.
Hanyakal (bahasa sunda; namun) pemikiran dan ide besar ini rupanya tidak serta merta menjadi Gagasan Kebangsaan. Padahal jika pemikiran presiden soal IKN Nusantara ini disodorkan kepada pertukaran pendapat dan gagasan antar anak bangsa yang selanjutnya memunculkan Gagasan Kebangsaan sebagaimana dimaksud sebagai Konsep Kebersamaan di atas.
KH Ronggosutrisno saat menyambut Joko Widodo (Jokowi) di Masjid Sindang Pulo, Jakarta Utara.
Artinya Joko Widodo sebagai presiden sangat mungkin untuk mengkomunikasikan dengan banyak pihak terutama komponen dan elemen masyarakat seperti kaum cerdik pandai, fraksi oposisi dan para akademisi, maka pembahasan IKN dapat dipastikan menjadi sebuah konsep dasar kebersamaan seperti yang dimaksudkan pada bahagian awal tulisan ini.
Para cerdik pandai akan beradu pendapat, politisi oposisi berargumentasi, kaum praktisi dan akademisi bakalan berteori. Dan pemerintah selanjutnya mengundang komponen dan elemen tersebut dalam satu forum diskusi.
Di sinilah bakal terjadi benturan pemikiran dan gagasan, lantas benturan serta gesekan pemikiran itulah yang kemudian menghasilkan kebenaran yang teruji.
Saatnyalah pemerintah bersama DPR merumuskan Ibu Kota Negara (IKN) yang baru, Sehingga hasil pemikiran presiden Jokowi menjadi Gagasan Bangsa.
Tidak seperti nasib IKN Nusantara sekarang ini. Entah..!
Tapi sebagai sebuah pemikiran dan gagasan, agenda IKN-nya presiden Joko Widodo luar biasa, berani.
Sekedar harapan, Istana Negara dalam perayaan usia 100 tahun merdeka mendatang dapat terwujud dilaksanakan di Istana Negara karya anak bangsa sendiri.Tidak lagi di Istana peninggalan kolonial Belanda, bukan pula hasil karya dan keringat bangsa lain.
Ini soal INTEGRITAS, MARTABAT dan KEDAULATAN SEGENAP BANGSA serta KEBANGSAAN INDONESIA.
Oleh: KH Ir Ronggosutrino Ta’in

























































