Serang, intip24news.com – Festival Bubur Asyura atau Bubur Suro dilaksakan di beberapa tempat di Pulau Jawa. Warisan budaya ini memiliki makna penting dalam tradisi masyarakat, terutama sebagai ungkapan syukur atas keselamatan dan keberkahan, serta sebagai sarana untuk mempererat tali silaturahmi dan berbagi rezeki.
Bubur Suro berupa hidangan bubur yang dibuat dengan berbagai macam bahan, seperti beras, sayuran, kacang-kacangan, dan rempah-rempah, yang biasanya disajikan pada tanggal 10 Muharram, hari Asyura dalam kalender Islam.
Pelaksanaan Festival Bubur Suro di Banten, dipusatkan di di Agro Wisata Durian Ciseuti, Desa Curug goong, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, Minggu (6/7).
Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah mengapresiasi pelaksanaan Festival Bubur Suro sebagai pelestarian budaya.
“Saya mengapresiasi inisiatif Desa
Curug goong yang penyelenggarakan kegiatan Bubur Suro ini sebagai
peringatan 10 Muharam yang memiliki makna mendalam dalam sejarah Islam,” kata Ratu Rachmatuzakiyah di Serang, Minggu.
Ia mengatakan kegiatan ini memiliki tiga tujuan mulia yang selaras dengan visi Kabupaten Serang.

Adapun ketiga tujuan itu meliputi
mempererat nilai gotong royong
masyarakat, memajukan pariwisata desa, dan menghidupkan kembali warisan budaya.
Pemerintah Kabupaten Serang
mendukung kegiatan positif yang
dapat memperkaya khazanah budaya daerah dan memperkuat ikatan sosial masyarakat.
“Kita akan terus berupaya menciptakan lingkungan yang kondusif agar tradisi-tradisi baik ini dapat
terus hidup dan berkembang,”
tandasnya.
Menurut dia Festival Bubur Suro
bukan hanya sekadar ajang makan
bersama, melainkan juga wadah
untuk mempererat tali silaturahmi,
memupuk semangat persatuan,
serta melestarikan tradisi leluhur
yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Sementara Kades Curug goong,
Juhaeni Jajuli, mengapresiasi antusiasme masyarakat meramaikan
Festival Bubur Suro dalam rangka
memperingati 10 Muharram 1447
Hijriah.
“Festival Bubur Suro ini supaya
melestarikan budaya gotong royong di kalangan masyarakat, sehingga kita bisa kompak bersatu.
Kota Pekalongan juga dilakujan tradisi turun-temurun ini, ribuan bubur suro dibagikan kepada pengunjung saat puncak acara.
Bubur Asyura berkaitan erat dengan peristiwa penting dalam sejarah Islam, yaitu selamatnya Nabi Nuh AS dari banjir bandang. Konon, bubur ini dibuat dari sisa-sisa bahan makanan yang ada di kapal Nabi Nuh setelah banjir surut.
Ungkapan Syukur setelah berlayar selama 150 hari.
“Ngabubur suro ini diambil dari kisah Nabi Nuh AS, saat itu stok makanan habis, lalu mereka menggabungkan kacang-kacangan dan bumbu seadanya menjadi bubur Suro,” ujar seorang warga.


















































