INTIP24NEWS | MUARA ENIM – Batubara atau biasa di sebut mutiara hitam yang terus digali didalam perut bumi disuatu daerah seharusnya bisa Mensejatrakan masyarakat di daerah tersebut namun jika tidak memperhatikan jangka panjang maka akan menjadi sebaliknya menjadi bencana di daerah tersebut karena rusaknya lingkungan dan keaslian bahkan akan menjadi “kutukan sumber daya alam” di daerah tersebut.
Di provinsi sumatera selatan terutama di daerah kabupaten Muara Enim dan kabupaten Lahat adalah daerah yang kaya akan penghasil batubara namun seharusnya dengan kekayaan alam di daerah tersebut bisa membuat Kesejatraan bagi masyarakatnya.
Begitulah yang di sampaikan langsung oleh deputi MAKI SUMSEL “Ir.Feri Kurniawan” minggu (18/04) sangat di sayangkan dengan kekayaan alam yang di hasilkan di dua kabupaten ini (muara enim-lahat,red) seharusnya bisa membuat masyarakatnya sejaterah, karena sudah hampir seabad tambang batu bara PT.Bukit Asam dan perusahaan tambang lainnya mengeksploitasi batubara di perut bumi tanah lematang dan ogan dan saat ini tambang batubara telah menghancur leburkan ekosistem bukti barisan dan bisa kita bayangkan apa yang akan terjadi di daerah tersebut kelak 10 atau 20 tahun yang akan datang.
“Sayangnya kekayaan alam yang sudah di eksploitasi selama seabad namun tidak membuat Kesejatraan bagi masyarakatnya, coba kita bayangkan bagai mana hancurnya daerah tersebut kelak 10 atau 20 tahun yang akan datang” ungkapnya
Bisa kita lihat saat ini lumbung-lumbung besar yang bertebaran di bukit-bukit yang saat ini sudah gundul karena tanah humus berganti dengan tanah liat akibat bekas galian pertambangan batubara tersebut. Dengan sedihnya lagi bisa kita lihat kaki bukit tunjuk di kawasan kaki bukit barisan sudah menjadi dataran yang dulunya di tumbuhi pohon pohon besar yang dulu menjadi penyanggah sumber air sungai lematang.
“Kita lihat saja saat ini lumbung pertambangan yang bertebaran sudah membuat gundul dan datar bukit bukit barisan di daerah itu yang dulunya di tumbuhi pohon pohon besar yang menjadi penyanggah sumber air di sungai lematang” tambah deputy MAKI SUMSEL dengan sedihnya
Dikatakan Feri Lagi, sudah milyaran ton tanah yang digali untuk mengambil kekayaan alam batubara yang tersembunyi di dalam perut bumi di daerah tersebut. Dan sayangnya hanya menguntungkan segelintir orang dan batubara yang di ambil tersebut untuk menopang energi listrik untuk kehidupan masyarakat lebih baik tapi tidak menjadikan masyarakatnya sejaterah dan yang sangat menyedihkan lagi justru batubara menjadi alat politik dan batubara menjadi sumber kekayaan mantan-mantan pejabat dan masyarakat hanya menerima dampak negatifnya dengan sudah terasanya perubahan suhu iklim yang mengakibatkan hasil petani masyarakat menjadi tidak stabil karena gudulnya hutan hutan dan sumber daya air yang mulai tercemar akibat pertambangan batubara tersebut.
“Sudah milyaran ton tanah digali untuk mengambil batubara yang berada dalam perut bumi, namun hanya menguntungkan segelintir orang, menjadi alat politik dan sumber kekayaan mantan mantan pejabat, masyarakat hanya menerima dampaknya negatifnya”jelas Deputi MAKI SUMSEL ini
PT Bukit Asam yang menjadi pionir tambang Batubara di Lahat dan Muara Enim seakan menjadi negara di dalam negara dengan segala pasilitas eksklusive yg ada di dalamnya ibarat bumi dan.langit dengan masyarakat di mulut tambang dan belum lagi tambang swasta yang menikmati pasilitas negara berupa jalan aspal dan hak wilayah tambang tak berbatas”, ungkap Feri.
“Semua ini menjadikan masyarakat ulayat tamu di rumah sendiri atau ibarat tikus yang mati di lumbung padi dan nantinya anak cucu mereka akan merasakan dampak hancurnya ekosistem hutan tropis Bukit Barisan”, pungkas Feri Deputy MAKI Sumsel mengakhiri keluh kesahnya,(Enji/A)













































