TANGERANG|INTIP24NEWS.COM – Gubernur Banten Andra Soni melakukan susur Kali Angke di wilayah Kota Tangerang dan Tangerang Selatan pada Rabu (23/7). Kegiatan ini bertujuan untuk meninjau langsung kondisi sungai serta mengidentifikasi penyebab banjir yang kerap melanda kawasan Tangerang Raya dan sekitarnya.
Dalam kegiatan ini, Gubernur Andra Soni didampingi oleh sejumlah pejabat, antara lain Pimpinan DPRD Provinsi Banten, Wali Kota Tangerang Sachrudin, Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Banten, serta Kepala Balai Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BWSCC) David Oloan Marpaung. Hadir pula Kepala Dinas PUPR Provinsi Banten Arlan Marzan dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Banten Wawan Gunawan.
Penyusuran dimulai dari Jembatan Fortune di Kota Tangerang Selatan dan berakhir di Bendung Polor, Kota Tangerang. Dengan menempuh jarak sekitar 10 kilometer menggunakan perahu karet bermesin, rombongan menyusuri sungai sambil melakukan observasi langsung terhadap kondisi lapangan.
Gubernur Andra Soni mengatakan bahwa selama sekitar dua jam perjalanan, berbagai hal dibahas bersama pihak terkait, baik untuk penanganan jangka pendek, menengah, maupun panjang.
“Pada akhirnya, semua ini bertujuan untuk menyelesaikan persoalan banjir yang sudah puluhan tahun terjadi, khususnya di wilayah sekitar Kali Angke ini,” ujar Andra Soni.
Menurutnya, salah satu penyebab utama banjir adalah penyempitan badan sungai akibat timbunan tanah yang menyebabkan pendangkalan. Selain itu, beberapa proyek penanggulangan banjir dari Balai Wilayah Sungai belum rampung.
“Bendung Polor ini dulunya mungkin dibangun untuk mendukung sektor pertanian. Namun karena kondisi wilayah telah berubah, tentu Balai sebagai pihak yang berwenang akan mengkajinya kembali,” tambahnya.
Gubernur Andra menegaskan bahwa koordinasi antara pemerintah pusat, provinsi, dan daerah sangat penting untuk membagi peran dan menyusun langkah konkret dalam penanganan banjir.
“Saya yakin, dengan beberapa kegiatan ke depan, insya Allah akan ada perubahan yang signifikan,” tutupnya.
Sementara itu, Kepala BWSCC David Oloan Marpaung menjelaskan bahwa sejak tahun 2011–2015, pihaknya telah merencanakan pembangunan tanggul sepanjang 26 kilometer (13 kilometer di masing-masing sisi sungai). Namun, hingga kini baru 19 kilometer yang berhasil dibangun.
“Masih ada tujuh kilometer yang belum terbangun. Selain itu, pembangunan tanggul pun tidak menyambung seluruhnya karena masih ada kendala pembebasan lahan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kondisi Kali Angke yang mengalami penyempitan dan pendangkalan signifikan. “Lebar sungai yang seharusnya 30 meter, kini menyempit hingga hanya 10 meter di beberapa titik,” tambah David.
Sebagai penutup, David mengimbau masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai. “Meskipun kami memperdalam dan melebarkan sungai, jika kebiasaan membuang sampah tidak diubah, maka sungai akan tetap kotor dan tidak berfungsi maksimal,” pungkasnya.
( WS/ FBPB )






















































