JAKARTA | INTIP24 News – Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat, (29/8/2025) kemarin. Terpantau kurs rupiah ditutup di posisi 16.499 terhadap dolar AS dari penutupan sebelumnya di posisi 16.352.
Pergerakan nilai tukar rupiah tersebut didorong sentimen internal seperti demo dan juga eksternal.
Sementara untuk pekan depan, diperkirakan ada fluktuasi melemah direntang 16.490-16.520
Adapun tekanan terhadap rupiah, dari sentimen internal adalah ketegangan sosial dan politik dalam negeri yang memanas sejak Kamis, 28 Agustus 2025 akan terus memanas.
Sebelumnya, dari sentimen eksternal, data dari Amerika Serikat menunjukkan ekonomi tumbuh pesat melampaui proyeksi dan pembacaan awal untuk kuartal kedua 2025 menggambarkan penguatan ekonomi AS.
Selain itu, jumlah warga Amerika Serikat yang mengajukan tunjangan pengangguran menurun, sebuah tanda kekuatan di pasar tenaga kerja.
Selanjutkan, pengukuran kedua Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II 2025 menunjukkan ekspansi tahunan sebesar 3,3%, melampaui proyeksi 3,1% dan naik dari 3,0% sebelumnya, sementara Klaim Pengangguran Awal turun menjadi 229.000, sedikit lebih baik dari konsensus 230.000 dan turun dari revisi 234.000.
Bloomberg menyebutkan, Gubernur The Fed Lisa Cook “menggugat Presiden AS Donald Trump atas upaya pemecatannya atas dugaan penipuan hipotek, yang memicu pertikaian bersejarah atas independensi bank sentral AS.”.
Sementara itu, Reuters melaporkan Gubernur Federal Reserve Christopher Waller akan mendukung penurunan suku bunga pada pertemuan bulan September dan penurunan lebih lanjut selama tiga hingga enam bulan ke depan untuk mencegah pasar tenaga kerja kolaps,
Meskipun Trump menawarkan jaminan keamanan AS selain pengerahan pasukan, belum ada tanggal atau tempat pertemuan yang ditetapkan, dan para analis melihat sedikit kemajuan dalam waktu dekat. Sementara itu, Rusia melancarkan gelombang serangan mematikan baru di Kyiv, merusak gedung-gedung yang menampung misi Uni Eropa dan British Council.
Dalam sebuah langkah yang terkait dengan agresi India dalam membeli minyak mentah Rusia, tarif tambahan AS sebesar 25% untuk impor India mulai berlaku pada hari Rabu, menggandakan total bea masuk menjadi 50% mulai 27 Agustus. Langkah ini merupakan bagian dari tekanan yang lebih luas yang bertujuan untuk mengekang hubungan India dengan Rusia di tengah perang Ukraina.


























































