Dalam kasus Israel, pendekatan ini setidaknya justru konsisten.
Para pemimpin Israel tidak pernah menyembunyikan tujuan mereka untuk menghancurkan rezim Iran dan secara terbuka menganggap diplomasi sia-sia.
Sebaliknya, Amerika menggunakan dialog secara sinis. Bukan sebagai jalan untuk berkompromi, namun sebagai cara untuk menurunkan kewaspadaan Iran sebelum menyerang.
Pelajaran apa yang bisa diambil oleh negara-negara lain yang saat ini sedang bernegosiasi dengan AS?
Hal ini jelas. Anda tidak bisa mempercayai prosesnya.
Anda hanya bisa mengandalkan diri sendiri dan kekuatan Anda sendiri.
Minimal, Anda memerlukan leverage yang tidak dapat diabaikan oleh rekan Anda. Di luar itu, logikanya menjadi semakin gelap.
Perbedaan kasus pergantian rezim sebelumnya dapat memberikan pelajaran. Pemimpin Libya Muamar Gaddafi dibunuh oleh warganya di tengah keruntuhan internal.
Saddam Hussein dieksekusi setelah persidangan yang dilakukan oleh pengadilan Irak, namun keadilannya dipertanyakan.
Kasus Iran berbeda. Hal ini meniru metode yang digunakan Israel terhadap para pemimpin Hizbullah dan Hamas, sebuah metode yang sepenuhnya didukung oleh Washington.
Apa yang sedang dibongkar adalah sisa-sisa kekangan yang diwarisi dari era sebelumnya.
Legitimasi negara tidak lagi didasarkan pada pengakuan formal atau status hukum, namun pada keadaan dan preferensi pribadi.
Hubungan internasional mulai menyerupai permainan rolet Rusia.
Di masa lalu, norma sering kali dilanggar, dan moralitas ditafsirkan secara berbeda di berbagai budaya.
Tapi ada kerangka kerja.
Kerangka kerja tersebut kini dibuang.
Karena pengikisan ini terjadi secara bertahap, banyak elit politik menganggap peristiwa ini hanya sebagai episode persaingan geopolitik yang tajam namun dapat dimengerti.
Mereka salah. Bagi penentang AS, kesimpulan ini tidak bisa dihindari.
Pertama, bernegosiasi dengan Washington tidak ada gunanya.
Satu-satunya alternatif yang ada adalah menyerah atau bersiap untuk mencapai hasil yang berdasarkan kekuatan.
Kedua, semakin masuk akal bahwa tidak ada lagi jalan mundur dan tidak ada ruginya. Dalam skenario ini, argumen ‘final’ apa pun menjadi sah, termasuk tombol merah, baik secara literal maupun kiasan.
Kesimpulan-kesimpulan ini berlaku terlepas dari bagaimana kejadian di Iran terjadi.
Bahkan jika hasil seperti yang terjadi di Venezuela muncul, yaitu transfer kekuasaan di belakang panggung yang dirancang untuk memuaskan pemangku kepentingan eksternal, dampak buruknya tidak akan bisa diperbaiki.
Mekanisme perubahan pemerintahan secara paksa telah terbukti, dan mekanisme ini jauh lebih kejam dibandingkan revolusi warna pada tahun 2000an.
Perlawanan terhadapnya akan mengeras, bukan melunak.
Dalam skenario tertentu, dampaknya bisa sangat buruk.
Ada juga dimensi regional yang lebih luas. Invasi ke Irak pada tahun 2003 tetap menjadi titik acuan utama.
Kampanye tersebut menghancurkan tatanan Timur Tengah pascaperang.
Kekalahan cepat tentara Saddam Hussein menciptakan euforia di Washington dan optimisme untuk membentuk kembali wilayah tersebut sesuai dengan keinginan Amerika.
Hal sebaliknya terjadi.
Kendali melemah, aktor-aktor tak terduga meraih kekuasaan, dan ketidakstabilan menyebar.
Ironisnya, kebangkitan Iran sebagai kekuatan regional merupakan akibat dari kehancuran Irak.
Jika Iran kini bertransformasi melalui kekuatan militer, kawasan ini akan kembali memasuki fase baru yang tidak dapat diprediksi.
Perjalanan mencatat, visi AS untuk Timur Tengah sederhana saja.
Israel akan menjadi kekuatan militer yang dominan, sementara integrasi ekonomi dengan kerajaan-kerajaan Teluk diperdalam demi kepentingan Amerika Serikat.
Iran menghalangi terciptanya kondisi itu, baik sebagai sumber ketakutan bagi negara-negara tetangganya maupun sebagai aktor berdaulat yang memiliki kepentingan dan kemitraannya sendiri.
Iran memikiki akar sejarah penting dalam struktur politik, budaya, dan militer Timur Tengah sehingga rencana semacam itu tidak bisa berjalan mulus.
Persia adalah sebutan kuno untuk wilayah dan peradaban yang kini dikenal sebagai Iran di Asia Barat daya, yang pernah menjadi salah satu peradaban terbesar di dunia, membentang dari Balkan hingga Lembah Indus.
Menurut bocoran, Trump ragu-ragu sebelum mengizinkan serangan itu.
Ia terbujuk oleh janji keuntungan besar: kendali atas Teluk, pengaruh di seluruh wilayah yang terbentang dari Kaukasus hingga Asia Tengah, dan peluang komersial baru yang selaras dengan pandangan dunianya.
Di atas kertas, logikanya menarik.
Kenyataannya, proyek-proyek ini jarang berjalan sesuai rencana.
Kesimpulan akhir bukanlah hal baru.
Pemaksaan dan kekerasan semakin menjadi hal yang penting dalam politik global. Segala sesuatu yang lain bersifat sekunder.
Bahkan alasan pembenaran moral atau ideologi tidak lagi diperlukan.
Bagaimana negara menyikapi kenyataan ini adalah sebuah pilihan.
Namun berpura-pura hal itu tidak ada bukan lagi suatu pilihan.















































