Selama tahun mandat antara 1923-48, Inggris memfasilitasi imigrasi Yahudi Eropa ke Palestina, meningkatkan populasi mereka sepuluh kali lipat, dari 60.000 di era sebelum Mandat menjadi 700.000 pada tahun 1948.
Mereka juga melatih kelompok-kelompok bersenjata Zionis, memberi mereka senjata dan mengizinkan mereka mengatur diri sendiri.
Sementara itu, penduduk asli Palestina ditindas dengan kekerasan menyusul pemberontakan yang menyerukan kemerdekaan dan menolak imigrasi Yahudi Eropa.
Pada bulan Februari 1947, Inggris mengumumkan akan menghentikan mandat dan menyerahkan masalah Palestina ke Perserikatan Bangsa-Bangsa.
PBB mengajukan rencana pemisahan pada November 1947, yang membagi Palestina menjadi dua bagian: 55 persen menjadi negara Yahudi, dan 45 persen menjadi negara Arab, sambil menjaga Yerusalem di bawah kendali internasional.
Palestina tidak diajak berkonsultasi mengenai proposal yang tidak pernah terwujud.
Sejak saat itu, dan mulai sehak itu lah kelompok Zionis memulai serangan mereka.
Berdasarkan cerqk biru militer yang dirancang sejak tahun 1945, kelompok bersenjata Zionis mulai secara sistematis meningkatkan serangan terhadap warga Palestina sejak Desember 1947 dengan tujuan memaksa mereka keluar.
Strategi Zionis memuncak dalam Rencana Dalet, cetak biru aksi militer mereka yang menyerukan “penghancuran desa” dengan “membakar, meledakkan, dan menanam ranjau di puing-puing”.
Dikatakan juga bahwa “jika terjadi perlawanan, angkatan bersenjata harus dihancurkan dan penduduk harus diusir ke luar perbatasan negara”.
Pasukan Zionis menggunakan berbagai taktik untuk memaksa warga Palestina keluar, termasuk kampanye pengeboman, pembantaian, dan perang psikologis.
Warga sipil yang tidak bersenjata dibunuh tanpa pandang bulu selama kampanye, beberapa di antaranya dimakamkan di kuburan massal.














































