Adab merupakan segala bentuk sikap, karakter diri, dalam perilaku, dengan cara hidup yang mencerminkan nilai sopan santun, kehalusan, kebaikan, budi pekerti atau tumbuhnya akhlak.
Orang beradab akan menempatkan ilmunya sebagai sebuah keberkahan, dan mensyukuri atas hadirnya ilmu dalam dirinya, dengan menghormati para guru yang telah membuka jalan ilmu buatnya.
Sedangkan, orang berilmu tanpa adab, akan menempatkan ilmunya sebagai sesuatu yang akan ia sombongkan, dan dengan kesombongan akan ilmunya, ia meremehkan siapapun termasuk gurunya.
Adab lebih tinggi dari ilmu ini juga, pernah di singgung oleh Syeh Abdul Qodir Al Jaelani dalam pernyataannya yang termasyhur, “Aku lebih menghargai orang yang beradab, dari pada orang yang berilmu, kalau hanya berilmu, iblispun lebih tinggi ilmunya dari pada manusia. ”
Adab dalam berilmu, menjadikan siapapun akan naik nilai derajatnya, ilmu mudah dicari, dan gampang dipelajari, namun adab adalah perilaku yang berkaitan dengan kebeningan hati, dan kecerdasan pikiran, sehingga ketika keduanya menjadi “klik,” menyatu, maka ia dikuatkan oleh para malaikat, dan ilmunya ada dalam naungan keberkahan, dan bermanfaat ilmunya.
Dan ilmu yang berkah, bermanfaat, menjadikannya mulia, mulia bukan karena ilmu yang banyak, namun mulia karena adabnya yang membumi, dan perilakunya yang menghormati orang lain.
Ilmu membuka kecerdasan, dan adab membuka kemuliaan, ketika adab di pakai untuk mencari ilmu, maka kecerdasannya menghantar pada kemuliaan, dan kemuliaan itu menghantar pada ridhoNya
























































