Dampak dari foto-foto dan video yang tersebar tentang kondisi di Gaza adalah sebuah bencana bukan hanya bagi pemerintahan saat ini, atau bagi pemerintahan Israel di masa depan, namun juga bagi banyak orang Yahudi yang memutuskan untuk tetap tinggal di negeri itu ketika nanti konflik ini berakhir.
Kehancuran Gaza meletakkan dasar bagi perang selama 50 tahun berikutnya. Generasi Palestina, Arab dan Muslim tidak akan pernah melupakan barbarisme yang dilakukan Israel saat ini.
Aaron David Miller, seorang analis Timur Tengah asal AS mengungkapkan analisanya, bahwa ada perbedaan cara pandang strategi perang antara Israel dan Hamas.
Bagi Israel, semakin banyak orang yang mereka bunuh dan semakin banyak yang mereka hancurkan, semakin banyak pula yang mereka pikir telah mereka menangkan.
Sedangkan Hamas menganggap semakin banyak hati dan pikiran yang dimenangkan, semakin besar kemenangannya.
Israel telah melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukan Prancis di Aljazair ketika mereka membunuh hingga 1,5 juta warga Aljazair, yang merupakan 15 persen jumlah populasi, antara tahun 1954 hingga 1962, karena mengira dengan melakukan hal tersebut mereka akan memenangkan perang.
Namun, pada akhir perang mereka harus meninggalkan Aljazair dan memberikan kemerdekaannya.
Tidak ada yang mengira kebangkitan spektakuler Hamas dalam jajak pendapat di Tepi Barat, Yordania, dan bahkan di negara-negara seperti Arab Saudi, di mana para pemimpinnya secara sadar berusaha mengubur perang tersebut dengan mengalihkan isu politik kepada ekonomi kawasan.
Bahkan, serangkaian penilaian intelijen AS mengkonfirmasi peningkatan pesat popularitas Hamas sejak dimulainya perang.
















































