Mengutip CNN, para pejabat mengatakan bahwa kelompok Hamas telah berhasil memposisikan dirinya di seluruh dunia Arab dan Muslim sebagai pembela perjuangan Palestina dan pejuang yang efektif melawan Israel.
Ini adalah berita buruk bagi semua negara, tentu saja, dengan AS sebagai pemimpinnya, yang berpikir bahwa Otoritas Palestina dapat menggantikan Hamas di Gaza. Ini bukan sekadar tiori di atas kertas. Ini adalah realitas politik baru pasca serangan mendadak Hamas 7 Oktober lalu.
Selama 17 tahun, kebijakan Israel adalah memecah belah dan memerintah dengan memisahkan Gaza dari Tepi Barat dan menghilangkan segala kemungkinan untuk mengambil bagian dalam pemerintahan persatuan nasional, maka Gaza dan Tepi Barat akan bersatu kembali dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Yaitu kebencian terhadap Israel.
Selama 17 tahun itu, Gaza dilupakan atau diabaikan oleh seluruh dunia kecuali selama perang tahun 2009, 2012, 2014 dan 2021, ketika Amerika dan negara-negara besar Eropa melakukan yang terbaik untuk memperkuat pengepungan yang dilakukan Israel dan Mesir di bawah pemerintahan Fattah el-Sisi
Ada peningkatan upaya untuk menyelundupkan senjata ke Tepi Barat melalui perbatasan sepanjang 360 km, yang empat kali lebih panjang dari perbatasannya dengan Lebanon dan Suriah.
Yordania memperkirakan Israel memerlukan lima kali lipat jumlah pasukan yang mereka hadapi di Lebanon untuk mengamankan perbatasan ini.
Dengan 13 kamp pengungsi dan jutaan warga Palestina sebagai warga negaranya, Yordania adalah tempat penampungan terbesar warga Palestina di diaspora, yaitu sekitar enam juta jiwa, melebihi jumlah warga Palestina yang tinggal di Tepi Barat dan Gaza.
Jika, pada tanggal 6 Oktober, Netanyahu berkoar-koar bahwa kemenangan Zionis sudah dekat, sambil mengacungkan peta Israel di hadapan sidang umum PBB yang menghapuskan Palestina dari peta, maka hari ini bualan tersebut terlihat sangat tidak tepat;
















































