Oleh: KH. Ronggosutrisno Tahir
Meningkatnya keresahan sosial dan ekonomi di Indonesia, frustrasi dengan kesenjangan yang kian menganga antara miskin dan kaya, ditambah sempitnya peluang usaha bagi masyarakat bawah yang hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya telah mencapai pada titik kulminasi kekecewaan.
Ketegangan politik yang dipicu oleh adanya apa yang disebut dua matahari kembar, menimbulkan ketidak percayaan kepada presiden Prabowo Subianto yang baru dalam hitungan bulan memerintah. Ditambah lagi dengan kekerasan aparat kepolisian dalam menangani aksi unjuk rasa hingga menarik energi masyarakat ke dalam rentetan puncak kemarahan.
Respon beberapa pejabat pemerintah terhadap situasi tersebut, dalam kurun waktu terakhir kebanyakan tidak menunjukan kepedulian atau empati kepada keresahan masyarakat yang kian menjadi.
Salah satu yang jadi penyebab utama adalah ketimpangan antara tunjangan dan gaji para politisi di DPR yang mencapai 42 kali lipat dan upah rata-rata warga
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat menerima tambahan berupa tunjangan rumah sebesar Rp 50 juta per bulan. Dengan adanya tunjangan itu, penghasilan anggota DPR mencapai Rp 100 juta sebulan. Bahkan menurut pengamat anggota DPR berpotensi memperoleh pendapatan mencapai Rp 230 juta per bulan atau 2,8 miliar per tahun.
Sementara itu, UMP atau Upah Minimum Provinsi tertinggi di Indonesia 2025 (DKI) sebesar Rp5.396.761. UMP terendah di Provinsi Jawa Tengah, yakni Rp2.169.348.
Pada gilirannya, warga akhirnya melampiaskan kemarahan mereka bukan hanya terhadap kebijakan ekonomi tetapi juga terhadap sikap sombong para pejabat dan pemimpin politik di legislatif.
Beberapa contoh konkret, seperti komentar merendahkan dari menteri keuangan tentang gaji guru serta anggota DPR yang membuat konten media sosial yang tidak peka terhadap krisis yang berkembang di masyarakat.
Demontrasi tanggal 25 Agustus 2025 terkondisi oleh beberapa penyebab yang disebutkan di atas. Alih-alih wakil rakyat ini menemui pendemo untuk menampung keluhan dan aspirasinya, salah seorang dari politisi parlemen justru menyebut pendemo itu “manusia tolol sedunia”. Inilah puncak kemarahan menemui momentumnya saat demontrasi susulan tanggal 28 Agustus memakan korban jiwa. Ibarat jerami kering disulut percikan api, menyebar lah api kemerahan itu ke daerah lain.
Terpantau pada hari itu, Gedung DPRD Kota Makasar, Sulawesi Selatan terbakar dan Markas Polisi DI Yogyakarta mengalami nasib yang sama. Kejadiannya mengingatkan kembali peristiwa reformasi 98 yang dimulai dengan tewasnya mahasiswa Trisakti. Kali ini pengemudi ojek online Affan Kurniawan meninggal akibat terlindas kendaraan taktis Brimob di daerah Pejompongan, Jakarta Pusat pada Kamis malam itu.
Hal ini tentu saja mempengaruhi jalannya pemerintahan presiden Prabowo Subianto yang belum genap satu tahun. Banyak asumsi liar yang menyebut adanya pengkhianatan dari orang-orang di sekitar presiden Prabowo. Mereka ini bukan lagi menjadi rahasia umum, mereka disebut dengan sebutan Geng Solo. Kelompok loyalis mantan presiden yang masih menempati pos-pos penting dalam kabinet saat ini.
Demontrasi tanggal 28 Agustus memaksa Prabowo angkat bicara menanggapi perkembangan situasi pasca terbunuhnya Affan Kurniawan. Bukan hanya itu, kini Prabowo Subianto harus menyikapi peristiwa pada jam-jam berikutnya. Menurut laporan media, Jumat malam, Gedung DPRD Kota Makasar ludes terbakar begitu pula markas Polda DI Yogyakarta
Presiden Prabowo Subianto seperti ditusuk dari depan dan belakan. Yaitu oleh kebobrokan para pembantu di kabinet dan penyokong secara politis di DPR.
Kita berharap presiden Prabowo Subianto dapat mengambil langkah kebijakan yang strategis untuk meredam amuk massa dan berani melakukan keputusan tegas bagi para pengkhianat di sekitarnya.
Semoga Alloh SWT melindungi bangsa ini dari perpecahan anak bangsa dan keterpurukan yang lebih dalam lagi.
Buah pikiran KH. Ronggosutrisno Tahir
Sepuh dari media INTIP24 News
Catatan:
Artikel ini merupakan kajian opini alternatif yang tidak mengklaim sebagai sebuah kebenaran mutlak.
Media INTIP24 News menghargai perbedaan pendapat dan sudut pandang yang berbeda.
Opini ini bertujuan untuk memperluas wawasan, membuka ruang diskusi. Jika anda punya pendapat dan sudut pandang yang berbeda kami sangat terbuka untuk menerima masukan dan komentar.
Redaktur Eksekutif: Hasan Munawar



















































