INTIP24NEWS.COM – Kementerian Luar Negeri China Mao Ning membantah bahwa negaranya melakukan kegiatan mata-mata di atas wilayah Amerika Srikat menyusul spekulasi bahwa balon yang terlihat di AS telah diluncurkan oleh Beijing.
“China adalah negara yang bertanggung jawab dan tidak melanggar wilayah udara negara lain, kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning.
Pihak berwenang China mengetahui laporan tentang balon pengintai yang ditemukan di atas wilayah Amerika dan saat ini sedang bekerja untuk memverifikasinya, kata Mao saat pengarahan pada hari Jumat.
“Spekulasi dan hype tidak kondusif sampai faktanya jelas,” kata juru bicara tersebut, seperti dikutip oleh penyiar China CGTN.
Ia berharap pihak-pihak terkait dapat menyelesaikan masalah ini dengan “cara yang tenang”.
“Tiongkok adalah negara yang bertanggung jawab. Kami bertindak sesuai dengan hukum internasional. Kami tidak berniat melanggar wilayah udara negara lain,” tegas juru bicara itu.
Pada hari Kamis, Pentagon mengklaim telah menemukan balon mata-mata di atas AS utara pada hari sebelumnya.
Penampakan objek terakhir yang dikonfirmasi adalah di Billings, Montana, sementara lokasinya saat ini masih belum diungkapkan.
Dalam komentar yang dikutip oleh media AS, seorang pejabat senior pertahanan AS yang tidak disebutkan namanya mengatakan Washington “yakin” bahwa balon itu milik China karena insiden serupa telah terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Pejabat yang sama mengklaim bahwa jalur penerbangan balon telah melintasi “sejumlah situs sensitif”, tetapi menambahkan bahwa pesawat tersebut memiliki “nilai aditif terbatas” dari perspektif pengumpulan intelijen.
Pihak berwenang AS mempertimbangkan untuk menembak jatuh balon tersebut, tetapi memutuskan untuk tidak melakukannya karena khawatir orang-orang di darat dapat terluka oleh puing-puing yang jatuh, tambah sumber itu.
Menurut laporan, balon tersebut berhasil sampai ke AS melalui wilayah Kanada.
Departemen pertahanan Kanada mengatakan telah mengambil langkah-langkah untuk memastikan keamanan wilayah udaranya, termasuk memantau “potensi insiden kedua”.
Serbuan balon datang hanya beberapa hari sebelum rencana perjalanan ke Beijing oleh Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken.
Mao menolak berkomentar ketika ditanya apakah perkembangan itu akan mempengaruhi kunjungan itu dengan cara apa pun.
















































