Kebakaran TPA Jatiwaringin, Dua Heli dari Sumatera dikerahkan Padamkan Api

Tangerang, intip24news.com —Upaya pemadaman kebakaran TPA Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang pada hari ke-2 menggunakan helikopter water bombing milik BNPB, Rabu (1/7/2026) petang WIB.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menerjunkan satu unit helikopter water bombing yang mampu mengangkut air dalam volume besar. Selain itu, pihaknya juga persiapkan satu pesawat caravan untuk modifikasi cuaca.

1 dari 2 heli water bombing BNPB yg diperbantukan dr Sumsel dan Jambi (sblmnya utk karhutla) sdh tiba dan mulai memadamkan kebakaran TPA Jatiwaringin dari udara.

Kebakaran di TPA Jatiwaringin, Kab. Tangerang malam ini cenderung makin besar. 10 unit damkar sudah di lokasi, 5 KK dievakuasi menghindari asap.

Bacaan Lainnya

Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Tangerang secara resmi menaikkan status penanggulangan kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk.

Status yang sebelumnya berada pada level “Siaga” kini ditingkatkan menjadi “Tanggap Darurat” guna mempercepat proses pemadaman dan mitigasi dampak lingkungan.

Kebijakan ini diambil menyusul eskalasi kobaran api yang kian meluas di gunungan sampah serta mulai terganggunya kualitas udara yang mengancam kesehatan masyarakat sekitar.

Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid, menegaskan bahwa penetapan status tanggap darurat ini bertujuan agar seluruh sumber daya daerah dapat dikerahkan secara maksimal tanpa terhambat kendala administratif yang kaku.

“Kita tetapkan bahwa ini sudah masuk kategori darurat. Karena ini menyangkut masalah kesehatan masyarakat, menyangkut juga risiko daripada api yang terus menjalar. Maka dengan status ini, penanganan bisa lebih optimal,” ujar Moch. Maesyal Rasyid di Tangerang, Rabu (17/6/2026).

Ia berharap, peningkatan status membuat upaya penanggulangan kebakaran TPA lebih maksimal, termasuk didukung keterlibatan semua pihak.

“Kami minta bantuannya kepada semua pihak, untuk tangani persoalan ini agar segera mematikan api ini, termasuk juga untuk upaya-upaya mencegah kepada kesehatan masyarakat,” kata dia.

Kedeputian Bidang Penanganan Darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Rabu pagi melakukan monitoring kebakaran yang masih terjadi dan berpotensi meluas.

Kepala BNPB Suharyanto menginstruksikan jajaran segera menuju lokasi guna melakukan asesmen lanjutan, berkoordinasi dengan pemerintah daerah, dan memperkuat upaya pemadaman.

Berdasarkan hasil asesmen sementara di lapangan, proses pemadaman mengalami kendala karena material yang terbakar didominasi sampah dan bahan mudah terbakar.

Selain itu, titik api berada pada tumpukan sampah dengan ketinggian tertentu sehingga sulit dijangkau oleh petugas. Kondisi tersebut diperparah dengan embusan angin yang cukup kencang serta cuaca panas yang menyebabkan api cepat menjalar ke berbagai arah.

Untuk mempercepat pengendalian kebakaran, ia menginstruksikan pengerahan helikopter pengebom air guna mendukung operasi pemadaman dari udara.

“Kita datangkan dua helikopter water bombing (pengebom air) dan jika diperlukan lakukan operasi modifikasi cuaca,” katanya.

Selain itu, upaya pemadaman di darat terus dilakukan dengan mengerahkan 10 mobil pemadam kebakaran berasal dari berbagai instansi.

Petugas memfokuskan pemadaman pada area yang dapat dijangkau untuk menahan laju penyebaran api.

Hingga saat ini, luas area yang terbakar diperkirakan 15 hektare. Dampak kebakaran juga mulai dirasakan masyarakat sekitar. Sebanyak 30 kepala keluarga atau 52 jiwa mengungsi ke Balai Desa Tanjakan Mekar akibat terdampak asap kebakaran.

Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Tangerang melaporkan estimasi kerusakan akibat kebakaran hebat yang melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Banten.

Hingga Selasa (30/6/2026) sore, total luas gunungan sampah yang hangus dilalap api diperkirakan mencapai lebih dari dua hektare.

Insiden ini menjadi perhatian serius otoritas lingkungan hidup karena besarnya volume material yang terbakar dapat memicu polusi udara yang meluas di wilayah Tangerang Utara.

Kepala DLHK Kabupaten Tangerang, Ujat Sudrajat, membeberkan kronologi awal kemunculan api. Menurutnya, kebakaran tidak langsung membesar secara mendadak, melainkan bermula dari titik api kecil yang terdeteksi oleh petugas lapangan pada pagi hari.

Ia mengatakan dugaan awal titik kemunculan api diketahui terjadi sejak pagi hari, dimana petugas TPA Jatiwaringin melihat kemunculan asap dari sebelah utara lokasi penimbunan sampah tersebut.

Menurutnya, kondisi kebakaran diperparah atas kondisi cuaca ekstrem dengan suhu panas dari matahari dan angin kencang yang memicu rambatan api lebih luas.

“Angin hembusannya cukup kencang, sehingga itu menyulitkan, berkejaran dengan petugas untuk proses pemadaman,” katanya.

Dia mengatakan situasi kedaruratan saat ini masih berlangsung. Petugas gabungan dari DLHK dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat kesulitan memadamkan api akibat keterbatasan air dan angin masih cukup kencang.

“Tapi begitu lagi penanganan, itu ada angin yang besar, hembusan angin, sehingga ada beberapa sampah yang kering pada terbang itu, dari situ awalnya,” ucap dia.

Sebagai langkah penanganan, lanjutnya, pemerintah daerah kini terus menambah bantuan unit pemadam kebakaran dengan menerjunkan sembilan kendaraan dan 45 personel.

Selain itu, kata Ujat, untuk menjamin keamanan dari kegiatan petugas dan lingkungan sekitar kebakaran di TPA Jatiwaringin, pihaknya juga menerjunkan tim medis dari Puskesmas Kecamatan Mauk.

“Ini kita sudah koordinasi dengan camat dan puskesmas setempat (Rajeg dan Mauk) ini. Petugas medis sudah disiapkan, kami antisipasi apabila ada yang kena dampak dari asap ini,” katanya.

Pos terkait