INTIP24NEWS | OPINI – Jika tidak ada pemulihan hubungan yang aktif antara Moskow dan Beijing selama beberapa dekade terakhir, dan jika Rusia tidak memiliki alternatif di Asia untuk pasar minyak dan gas Eropa, Rusia tidak akan mampu menyerang Ukraina.
Apakah ini berarti China adalah penerima manfaat utama dari krisis Eropa dan bahwa situasinya berkembang sesuai dengan rencana Beijing? Ada berbagai cara untuk menilai sifat dan konsekuensi dari peristiwa yang dimulai pada bulan Februari saat Rusia menginvasi Ukraina.
Tetapi yang jelas adalah bahwa mereka tidak dapat dianggap terpisah dari konteks sejarah, yang harus mencakup setidaknya delapan tahun terakhir, dimulai dengan penggulingan pemerintah Presiden Ukraina sebelimnya Viktor Yanukovych yang didukung Barat.
Atau lebih rinci lagi, seluruh periode tatanan dunia pasca-bipolar sejak Uni Soviet berakhir pada tahun 1991.
Situasi di Ukraina merupakan konsekuensi dari kenyataan bahwa sejak berakhirnya Perang Dingin, negara-negara blok Euro-Atlantik belum bersedia untuk menciptakan sistem keamanan yang komprehensif di Eropa yang mencakup Rusia.
Konflik saat ini dan aspek ekonominya, melibatkan sebagian besar dunia.
Selain itu, dalam situasi di mana kebujakan pemutusan hubungan ekonomi dan kemanusiaan merupakan pengaruh utama terhadap Rusia, di sinilah faktor China telah terbukti menjadi kuncinya.
Jika China tidak mengambil sikap netral yang baik hati terhadap operasi militer Rusia, tidak terus membeli barang-barang Rusia dan dengan demikian memberikan pertahanan strategis yang andal, kelanjutan ofensif secara objektif tidak mungkin dapat terus dilakukan oleh Rusia.
Tetapi apakah China adalah penerima manfaat utama dari krisis Eropa, seperti yang ditanyakan di awal?
Bagi saya, jawabannya jelas tidak.
Jalannya peristiwa saat ini tidak sesuai dengan keinginan atau kepentingan Beijing.
China sendiri yakin bahwa AS secara praktis adalah satu-satunya pihak yang akan diuntungkan saat ini dengan beranggapan bahwa Washington lah sebagai ‘pencetus perang’.
Penyatuan negara-negara Barat kolektif’ (berdasarkan dikotomi imajiner ‘demokrasi vs. otoritarianisme’, ‘pertempuran antara Baik dan Jahat) sungguh merugikan kepentingan China dengan mengaburkan kemungkinan normalisasi hubungan dengan AS, yang, semata-mata (bagi China) adalah alasan ekonomi, akan bermanfaat bagi Beijing.
Bahkan ini juga mengurangi ruang China untuk bermanuver di Eropa Barat, yang merupakan pasar utama untuk barang-barangnya, terlepas dari kenaikan tajam harga energi dan pangan, yang merupakan hal penting bagi perkembangan ekonomi China yang stabil.
Secara keseluruhan, situasinya untuk China rumit. Negara ini telah mempersiapkan suatu fakta bahwa cepat atau lambat, ambisi alaminya untuk peran sebagai pemimpin dunia (konsep ‘Impian Cina’) harus didukung dengan kekuatan mikiternya.
Tekanan ekonomi, pengenaan sanksi terhadap China, dan retorika agresif para pemimpin Barat selama lima tahun terakhir telah membuat Beijing tidak punya pilihan selain bersiap untuk perang di masa depan.
Namun, semua telah berlangsung terlalu cepat, dan saat ini, kepemimpinan Barat belum merasa siap untuk merespon tindakan lebih tegas atas tindakan yang telah diambil Moskow.
Selain itu, China berpikir bahwa waktu ada di pihaknya, dan tugas Beijing sekarang adalah mempertahankan sikap netral selama mungkin, membangun kekuatannya sambil berharap untuk melemahkan para pesaingnya.
Para pemimoin negara Euro-Atlantik juga menyadari hal ini dan mereka memaksakan tekanan geopolitiknya pada China.
Tesis ‘keamanan tak terpisahkan dalam Euro-Atlantik dan Indo-Pasifik’ telah muncul dalam retorika, yang secara efektif menyarankan pembentukan ‘NATO global’.
Jadi, kita bergerak dari krisis keamanan Eropa ke krisis yang benar-benar global.
Dalam praktiknya, NATO global sudah dibuat, dan pertemuan puncak blok militer pimpinan AS di Madrid pada akhir Juni adalah bukti dari hal ini.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah NATO, negara-negara Pasifik sepertiAustralia, Selandia Baru, Jepang, dan Korea Selatan telah diundang;
Aksi-aksi diintensifkan untuk membentuk ‘quasi-aliances’ seperti QUAD (Quadrilateral Security Dialogue antara AS, Australia, Jepang dan India), AUKUS (pakta trilateral antara AS, Inggris, dan Australia), dan Partners in the
Blue Pacific (PBP: AUKUS plus Jepang dan Selandia Baru).
Berbeda dengan ‘NATO klasik’, yang telah lama dianggap di China sebagai sisa-sisa Perang Dingin dan konflik intra-Barat, aliansi baru ini (NATO Global) memiliki orientasi anti-Cina yang jelas.
Akhirnya, krisis Ukraina yang sekarang tengah berlangsung dapat dikenang sebagai tontonan sebelum acara utamanya terjadi.
Oleh Ivan Zuenko, Peneliti Senior di Institute of International Studies dan Associate Professor dari Departemen Studi Oriental, MGIMO, Moskow
Sumber: RT
Editor: Hasan M
















































