KTT G20 Tanpa Kehadiran Putin, Seberapa Besar Manfaatnya?

INTIP24NEWS.COM – KTT G20 di Indonesia tidak mungkin menjadi acara yang menyenangkan bagi Rusia. Informasi menunjukkan bahwa banyak dari peserta acara tsb berniat menolak untuk mengambil bagian dalam sesi foto dgn perwakilan Rusia, dan bahkan akan mencoba mengisolasi mereka.

Jika spekulasi ini terbukti benar, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov akan menanggung beban penuh, sebagai pemimpin delegasi.

IMG-20221115-145224Menlu Rusia Sergey Levrov

Menurut Kremlin, Putin secara pribadi telah memutuskan untuk melewatkan KTT karena jadwalnya yg sibuk dan kebutuhannya untuk tinggal di Rusia.

Bacaan Lainnya

Memandang kondisi tersebut, kembali saya mengulangi betapa lucunya.

Beberapa bulan yang lalu, blok Barat sibuk memprotes Indonesia yang turut mengundang Presiden Putin saat kampanye operasi militer khususnya di Ukraina. Bahkan mereka memaksa untuk mengundang Presiden Zelensky di mana Ukraina bukan bagian dari G20.

Saat para peserta KTT G20 sudah tiba di Bali dan Pemimpin Rusia memutuskan tidak pergi, tampaknya di antara pemimpin blok Barat ada yang berharap Putin hadir di Pulau Dewata.

Presiden Prancis Emmanuel Macron telah menyatakan perlunya melanjutkan dialog dengan Presiden Rusia, Kanselir Jerman Olaf Scholz mengakui bahwa “akan lebih baik jika Putin pergi,” dan pemimpin Turki Recep Tayyip Erdogan percaya bahwa partisipasi mitranya dari Rusia akan sesuai.

Semua ini dengan latar belakang dukungan China. The Washington Post (WaPo) menulis bahwa negara-negara Barat khawatir dgn kemitraan antara Vladimir Putin dan Xi Jinping.

Sumber WaPo itu tidak berpikir bahwa Beijing akan menolak untuk mendukung Rusia di KTT itu bahkan setelah pertemuan antara Biden dgn Xi.

Meskipun beberapa hari telah berlalu sejak kunjungan Sergey Lavrov diumumkan, masih belum diketahui apakah ada pertemuan bilateral yg direncanakan untuk menteri Rusia.

Secara khusus, Moskow belum menyebutkan kemungkinan pertemuan dgn Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken.

Berita utama tentang Lavrov di Bali, sejauh ini, didorong oleh Associated Press (AP) dan beberapa outlet Barat lainnya, pada hari Senin, melaporkan bahwa ia telah dibawa ke rumah sakit dengan masalah jantung tak lama setelah tiba.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Maria Zakharova mengatakan laporan ini adalah “berita palsu tingkat atas” .

Diplomat, yang juga berada di Bali itu, mengatakan dia membaca berita dengan Menteri Luar Negeri dan mereka berdua “tidak bisa mempercayai mata kami”.

Sebelumnya dia mengumumkan bahwa Lavrov berencana untuk berbicara di KTT tentang inisiatif Rusia untuk menyediakan makanan dan energi ke pasar luar negeri. Selain itu, agenda Moskow termasuk mempresentasikan rencananya untuk meningkatkan kerja sama gas dengan Turki.

Secara umum, ini sesuai dengan agenda resmi G20. Menurut informasi awal, peserta KTT berencana untuk membahas masalah kesehatan, transisi ke energi berkelanjutan, dan transformasi digital.

Namun, tidak diketahui apakah KTT Bali 2022 akan bermanfaat dalam membantu dunia mengambil langkah maju dalam mengatasi krisis Ukraina, seperti yg diharapkan beberapa orang. Sejauh ini, semua pernyataan para pemimpin Barat menunjukkan sebaliknya.

Negara-negara Barat nampaknya telah menekan tuan rumah KTT G20 di Bali untuk mengecualikan Federasi Rusia dari acara tersebut sejak Putin mengumumkan operasi militer di Ukraina Februari lalu. Tapi kini mereka mulai menyadari bahwa mengisolasi Rusia akan membuat negara itu makin lekat dgn China

Oleh Novenda Deje @Vendra_Deje
Editor: Hasan M

Pos terkait