Mantan Presiden Rusia: Perang Nuklir Bisa saja Terjadi, Meski Tidak Ada yang Menginginkan

INTIP24NEWS – Mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev mengatakan bahwa tidak ada yang mengesampingkan Rusia untuk menggunakan senjata nuklir, tetapi juga menekankan bahwa tidak ada yang menginginkan perang nuklir terjadi.

Sejak peluncuran invasi militer Rusia di Ukraina pada akhir Februari, hubungan antara Moskow dan Barat telah memburuk ke tingkat terendah dalam sejarah modern dan mendorong kekhawatiran terjadinya konflik yang lebih luas dengan penggunaan senjata nuklir.

Rusia telah berulang kali memperingatkan Amerika Serikat dan sekutunya bahwa mengirim lebih banyak senjata ke Ukraina berisiko menimbulkan konfrontasi langsung antara Rusia dan NATO.

Dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera, Medvedev, yang saat ini menjabat sebagai wakil ketua Dewan Keamanan Rusia, mengatakan bahwa meskipun dia tidak ingin menakut-nakuti siapa pun, “ketika orang mengatakan bahwa sesuatu tidak mungkin, karena tidak pernah mungkin, mereka itu salah.”

Bacaan Lainnya

Dia mencatat bahwa dunia telah menyaksikan penggunaan senjata nuklir, dan tidak lain itu dilakukan oleh Amerika pada perang dunia ke II.

Mengacu pada doktrin nuklir Rusia, Medvedev menyatakan bahwa panglima tertinggi Rusia (presiden) dapat memerintahkan serangan nuklir dalam beberapa situasi. Misalnya, jika infrastruktur vital Rusia menjadi sasaran serangan nuklir.

Senada dengan Medvedev, pada bulan April, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov memperingatkan bahwa risiko perang nuklir cukup signifikan.

Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin mengecam pernyataan Lavrov sebagai sangat berbahaya dan provokatif.

“Tidak ada yang ingin melihat perang nuklir terjadi. Ini adalah perang di mana semua pihak akan kalah,” kata Austin.

Pejabat senior AS, termasuk Presiden Joe Biden sendiri, bersikeras bahwa mereka tidak mengirim senjata ke Ukraina yang mampu menyerang Rusia, minggu ini sebagaimana telah dikonfirmasi bahwa Kiev akan menerima beberapa peluncur roket HIMARS dari Washington.

Sistem ini menembakkan roket rentetan dengan jangkauan efektif sekitar 30 km, tetapi juga dapat menggunakan rudal balistik taktis dengan jangkauan hingga 300 km.

Sumber: RT
Editor: Hasan M

Pos terkait