Nakba Kedua, Sebuah Parade Kematian di Tanah Palestina (Bag II habis)

Pemimpin oposisi Israel, Benny Gantz, juga mengisyaratkan proyek yang lebih besar: “Kami akan menang, dan mengubah realitas keamanan dan strategis di kawasan.”

Jika usaha yang lebih besar yang direncanakan dilaksakan? Apa dampaknya, dan apa risiko yang ditimbulkannya bagi kawasan ini secara keseluruhan?

Jawaban pertama dan paling jelas adalah Nakba kedua, yaitu pengusiran massal terhadap sebagian besar penduduk Gaza yang berjumlah 2,3 juta jiwa, sebuah angka yang cukup besar untuk mengubah bom waktu demografis yang selalubjadi momok di setiap orang Israel.

Dilihat dari kata-kata pemimpin Israel dan tindakan militernya, eksodus massal adalah hal yang mungkin coba dilakukan Israel di Gaza saat ini.

Bacaan Lainnya

Mesir akan menjadi tempat penampungan eksodus pengungsi Palestina sebagaimana yang terjadi setelah perang Arab-Israel tahun 1948 dan perang tahun 1967.

Lembaga keagamaan di Mesir, Al-Azhar Al-Sharif menghimbau warga Palestina untuk tetap teguh dan tetap bertahan.
Kedatangan satu juta warga Palestina dari Gaza ke Sinai, tanpa berlebihan, berpotensi membuat Mesir berada dalam posisi terpuruk setelah satu dekade mengalami kemerosotan ekonomi di bawah kepemimpinan Presiden Abdel Fattah el-Sisi.

Saat ini, jumlah warga Mesir yang terombang ambing mencapai rekor tertinggi. Sisi sendiri menyadari bahaya ini dan mengulangi seruan Al-Azhar tersebut.

Tidak ada keraguan juga mengenai dampak pengusiran massal warga Palestina terhadap keseimbangan antara warga Palestina dan Tepi Timur di Yordania, yang merupakan perbatasan terpanjang dan hingga saat ini paling tenang (sebagai penyangga) bagi Israel.

Nakba kedua akan menghadirkan krisis eksistensial bagi dua negara Arab yang dapat mengancam kemampuan masing-masing rezim penguasa untuk mengendalikan negara mereka sendiri.

Namun, jika dilihat dari kata-kata pemimpin Israel dan tindakan para jenderal, eksodus massal adalah hal yang mungkin coba dilakukan Israel di Gaza saat ini.

Pos terkait