INTIP24NEWS.COM – Setidaknya 80 orang filaporkan tewas dan hampir 600 lainnya terluka dalam bentrokan sengit antara faksi-faksi yang bersaing di Sudan. Konflik di dalam negeri Sudan dipicu karena tentara negara itu dan Pasukan Dukungan Cepat terus saling menuduh melakukam pertumpahan darah.
Menurut perkiraan terbaru oleh Komite Sentral Dokter Sudan, dikutip oleh Reuters, setidaknya 80 orang tewas dan 595 lainnya luka-luka pada Minggu pagi.
Serikat medis lainnya, Sindikat Dokter Sudan, sebelumnya mengatakan kepada AP banyak korban adalah warga sipil, dan memperingatkan bahwa jumlah korban tewas dapat meningkat karena “banyak korban yang tak terhitung” di berbagai bagian negara.
Konflik perselisihan tentang bagaimana RSF harus diintegrasikan ke dalam militer, dan otoritas mana yang harus mengawasi proses tersebut, tembakan dan ledakan terdengar di seluruh ibu kota sepanjang siang hingga malam hari.
Kedua belah pihak menggunakan kendaraan lapis baja dan truk pick-up dengan senapan mesin terpasang dalam pertempuran di dalam dan sekitar Khartoum.
Saksi juga melaporkan melihat tank dan jet, karena militer mengatakan telah melancarkan beberapa serangan udara terhadap posisi RSF.
Unit paramiliter diklaim telah merebut istana kepresidenan, stasiun TV negara, beberapa bandara dan kediaman panglima militer, dan mengatakan telah menimbulkan banyak korban di pihak tentara Sudan.
Pemimpin RSF mengklaim pasukannya menguasai 90% situs strategis di ibu kota, Khartoum.
Sementara militer bersikeras bahwa semua fasilitas strategis di ibu kota dan di seluruh negeri masih di bawah kendalinya. Militer juga mengesampingkan negosiasi dengan RSF, menyebutnya sebagai “milisi pemberontak” yang harus ditumpas
Persaingan itu berawal dari pemerintahan Presiden Omar al-Bashir, yang digulingkan pada April 2019. Sudan sejak itu berada dalam keadaan krisis politik. Negara ini saat ini dipimpin oleh Dewan Kedaulatan Transisi.
Presiden dan penguasa de facto adalah Panglima Angkatan Darat Jenderal Abdel Fattah Al-Burhan.
Sedangkan Komandan RSF Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo.
Kondisi yang pasti dan situasi di lapangan masih belum jelas, dengan komunitas internasional secara serempak menyerukan gencatan senjata.
Perserikatan Bangsa-Bangsa, Uni Afrika dan Liga Arab semuanya telah mendesak para pihak untuk kembali ke negosiasi.
Rusia dan China mendesak pembicaraan antara pihak yang bertikai untuk “mencegah eskalasi situasi”, sementara AS mendesak “semua aktor untuk segera menghentikan kekerasan dan menghindari eskalasi lebih lanjut atau mobilisasi pasukan.”
Sumber: RTNews
Editor: Hasan M
















































