Refleksi HUT Banten ke 21, Beranjak dari Euforia dan Realita

INTIP24NEWS | BANDUNG – Provinsi Banten baru saja merayakan hari jadinya yang ke-21, yaitu pada tanggal 4 Oktober 2021 lalu. Banyak pesan dan harapan dari warga masyarakat untuk pemerintah Provinsi Banten ini. Tak terkecuali pesan dan harapan seorang tokoh muda dan tokoh masyarakat asal Banten yang saat ini tinggal di Bandung Jawa Barat.

Adalah Kang Iik Nurul Faik, seorang alumni dan pembina keluarga mahasiswa Pandeglang,
Dewan Pembina Forkom-Bansel ( Forum Komunikasi Masyarakat Banten Selatan, Akademisi Universitas Pendidikan Indonesia asal Munjul Pandeglang-Banten, tinggal di Bandung ).
Inilah isi Wawancara tersebut.

Tanya:

1. Menurut anda apa yang diperlukan untuk pembangunan Banten kedepan?

Bacaan Lainnya

Jawab:
Tentu saja kita sebagai warga Banten harus merefleksi terkait apa yang menjadi motivasi, harapan dan cita-cita luhur pendirian Banten sebagai sebuah provinsi yang terpisah dari Jawa Barat, yakni Banten yang berkemajuan, karena realitasnya saat itu ketika masih menjadi bagian dari Jawa Barat. Pembangunan wilayah Banten sangat tertinggal, infrastruktur jalan buruk, pembangunan SDM Banten tertinggal, fasilitas kesehatan buruk, tingkat kemiskinan tinggi dan sejumlah permasalahan lain yang membuat wilayah Banten ini sangat tertinggal, bahkan orang acapkali berseloroh Banten ketka itu tidak lebih baik dari Papua, padahal Banten tidak jauh dari ibukota negara. Banten dulu sering dijadikan bahan guyonaan PNS Pemprov Jawa Barat di Gedung Sate, kalau Anda melanggar disiplin seringkali dikatai “awas kamu dipindahkan ke Banten!”, tentu saja orang merasa tidak mau, seakan dibuang kedaerah tertinggal. Itu fakta masa lalu. Dulu kalau orang Banten ingin melanjutkan ke pendidikan tinggi harus pergi ke Jakarta, Bandung, Bogor atau bahkan jauh ke Yogyakarta dan berbagai kota lainnya. Banten merupakan daerah tertinggal, hampir di semua ranah Banten tertinggal. Realitas itulah antara lain yang kemudian memotivasi para tokoh Banten untuk bangkit Bersama memperjuangkan pendirian Banten menjadi daerah otonom, agar Banten dapat membangun dirinya secara lebih mandiri, otonom dan bertanggungjawab atas cita-cita luhur itu. Oleh karenanya, hemat saya, yang diperlukan saat ini dan langkah ke depan adalah kesadaran dan keikhlasan untuk menjadi aktor-aktor pembangunan yang senantiasa sadar akan cita-cita pendirian Provinsi Banten itu sendiri. Para pelaku pembangunan seperti politisi, tokoh masyarakat, akademisi, alim ulama, generasi muda, mahasiswa, pemuda, ORMAS, LSM dan seluruh elemen masyarakat Banten hendaknya merajut kembali kekompakan, kebersamaan, persaudaraan, bahu membahu untuk turut menjadi aktor pembangunan yang “patriotik” untuk memajukan Banten, bukan untuk menjadi penguasa dan mempertontonkan kekuasaanya secara tidak etik di Banten. Banten ini milik rakyat Banten, bukan milik tokoh atau orang perorang yang ingin menjadi penguasa di Banten ini, itu keliru, tidak boleh terjadi!. Banten harus dibangun secara berkeadaban, demokratis dan jauh dari sikap dan sifat feodal apalagi ngajawara yang tidak bermafaat dan maslahat. Bukan jamannya lagi mempertontonkan budaya kekuasaan, budaya kekerasan yang pongah dan tidak beradab. Mari kita tujukan urang Banten yang agamis, intelek, etik, kompak dan teguh dalam memperjuangkan cita-cita kemajuan yang dulu menjadi cita-cita dan mimpi bersama.

Pos terkait