Ondel-Ondel Ikon Budaya Betawi, Jangan Dipakai Ngamen di Jalan

Ondel-ondel sebagai ikon budaya Betawi merupakan manifestasi karakter adaptif masyarakat Betawi merangkul beragam unsur budaya yang masuk ke daerah yang dulu dikenal sebagai Batavia atau Jayakarta.

Ondel-ondel merupakan pertunjukan seni boneka raksasa khas Betawi yang tingginya sekitar 2,5 meter dan dibuat dari anyaman bambu. Awalnya diciptakan untuk tolak bala (penolak bala), namun kini sering tampil dalam pesta rakyat dan diarak di acara-acara besar dengan iringan musik khas Betawi seperti gambang kromong atau tanjidor.

Sebagai sebuah ikon budaya Betawi yang harus dilestarikan, juga harus dihormati sebagai warisan bernilai tinggi sehingga penggunaannya jangan sampai disalah gunakan.

Baru-baru ini, ada desakan beberapa kalangan yang meminta warga untuk tidak menggunakan ondel-ondel untuk mengamen di jalan-jalan.

Bacaan Lainnya

Pada acara Festival Storytelling Cerita Rakyat “Suara Nusantara” 2025, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan komitmennya mengembalikan ondel-ondel ke posisi terhormat sebagai ikon budaya Betawi.

Dia pun menaruh harapan agar ondel-ondel tidak lagi digunakan sebagai alat ngamen, tetapi ditempatkan kembali sebagai ikon budaya Betawi yang bernilai.

“Saya termasuk yang berkeinginan yang namanya ondel-ondel itu tidak digunakan untuk ngamen tapi ondel-ondel kita jual untuk menjadi suatu budaya campuran yang dimiliki oleh Betawi,” kata dia kepada wartawan, Minggu (16/11/2025).

Pramono mengatakan budaya Betawi memiliki karakter adaptif, merangkul beragam unsur budaya yang masuk ke Jakarta. Tak heran busana dan ornamen Betawi selalu tampak cerah dan penuh warna.

“Termasuk kebaya encim pun warnanya pasti menarik,” ucap dia.

Dalam kesempatan itu, Pramono mengapresiasi penyelenggaran Festival Storytelling Cerita Rakyat “Suara Nusantara” 2025. Acara digelar di Gedung A, Lt.3 Kompleks Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta Pusat, Minggu (16/11/2025).

Pramono berkomitmen untuk menjadi bagian dari gerakan menghidupkan kembali cerita rakyat di tengah gempuran budaya luar. Pramono menyebut kegiatan seperti “Suara Nusantara” sejalan dengan semangat Pemprov DKI. Dia bahkan membuka pintu Balai Kota sebagai tuan rumah jika penyelenggara ingin menggelar event serupa di kemudian hari.

“Sebagai Gubernur Jakarta saya apresiasi penghargaan acara-acara yang seperti ini dan untuk kalau mau adain acara kayak gini lagi Balaikota terbuka sebagai tuan rumah. Karena memang yang seperti ini sama seperti dengan apa yang menjadi semangat di Balaikota,” ucap dia.

Dia menekankan bahwa cerita rakyat bukan sekadar legenda masa lalu. Di dalamnya tersimpan nilai kejujuran, kerja keras, gotong royong, sopan santun, serta etika yang membentuk karakter masyarakat.

“Sebagai Gubernur Jakarta saya ingin cerita-cerita rakyat ini tidak hanya menjadi legenda masa lalu tapi sebenarnya spiritnya kejujurannya, kerja kerasnya, gotong royong nya, budayanya etikanya sopan santunnya tutur katanya dan sebagainya,” ucap dia.

Pramono menilai kisah-kisah seperti Timun Mas, Sangkuriang, hingga Kancil yang mewarnai masa kecil banyak orang perlu kembali dikenalkan kepada anak zaman sekarang yang akrab dengan Harry Potter dan dunia digital

“Yang seperti ini lah yang kita kembali hidupkan karena legenda-legenda cerita rakyat ini luar biasa apalagi di tengah arus gawai gadget digital banyak sekali kalau kita tidak hati-hati akan kehilangan identity,” ucap dia.

Pramono juga menyatakan dukungan penuh terhadap upaya pelestarian cerita rakyat di seluruh Indonesia. Dia mengapresiasi inisiatif komunitas yang ingin membukukan kembali cerita-cerita rakyat dari Sabang sampai Merauke. Pramono menilai pengenalan cerita rakyat penting bagi perkembangan anak.

“Menurut saya ini akan berguna bagi anak-anak di kemudian hari karena bagaimana pun cerita-cerita rakyat inilah yang menghidupkan masa anak-anak,” ucap dia.

Pemprov DKI, kata Pramono, kini memiliki 324 RPTRA yang dapat menjadi ruang literasi dan tempat mendongeng bagi anak-anak. Dia juga membuka peluang kerja sama pihak mana pun untuk mengembangkan taman-taman kecil di kompleks perumahan, baik melalui CSR maupun dana pribadi.

“Saya secara khusus berkeinginan meningkatkan literasi melalui perpustakaan di ruang baca di sekolah di taman-taman untuk cerita-cerita rakyat ini akan memberikan dukungan sepenuhnya,” ucap dia.

Pramono yakin, anak-anak lebih mudah menangkap nilai melalui cerita yang disampaikan dari mulut ke mulut.

“Karena memang saya akui kelebihan yg kita punya adalah mendongeng dan kita adalah mendongeng bukan membaca tapi lebih mendengarkan cerita-cerita,” kata dia menandaskan.

Pos terkait