Aku terbangun saat goncangan hebat menggetarkan kamarku sekitar pukul 02.00 dini hari Selasa (9/5). Rasa cemas menyelimuti dan perasaan tak nyaman merayap di kulitku.
Ku periksa ponsel dan ketakutan terburuk terbukti ketika aku melihat berita bahwa militer Israel tengah menyerang Gaza.
Daerah yang kini aku berada khususnya dalam bahaya besar menjadi sasaran berikutnya dari pesawat tempur Israel.
Sebagai seorang jurnalis, aku memanfaatkan
Twitter agar dunia tahu apa yang sedang terjadi. Jet tempur Israel kembali, menampilkan tarian maut mereka di atas kepala kami.
Selama 16 tahun terakhir, suara jet yang melayang di atas, dengung drone, dan bom yang meledak di atas gedung telah menjadi pengingat terus-menerus tentang betapa gentingnya kehidupan di Gaza.
Baru-baru ini terdengar laporan tentang pembunuhan yang direncanakan terhadap beberapa komandan Jihad Islam Palestina (PIJ) di Gaza, banyak orang mulai mengkhawatirkan bahwa perang akan segera terjadi lagi dan lagi.
Informasi yang mengerikan kemarin merupakan indikasi meningkatnya kekerasan.
Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, serangan udara Israel pada dini hari itu merenggut nyawa 15 warga Palestina, termasuk empat wanita dan empat anak.
Di antara para korban adalah seorang dokter gigi terkemuka, Dr Jamal Khaswan, yang menjabat sebagai ketua dewan Rumah Sakit Al-Wafaa, berikut istrinya Mervat, dan putra mereka Youssef yang berusia 20 tahun, seorang mahasiswa kedokteran.
Keluarga itu terbunuh ketika langit-langit rumah mereka runtuh saat mereka tidur.
Seperti dilansir Reuters, Dr Khaswan “dikenal karena menawarkan pengobatan gratis kepada keluarga miskin”.



















































