Gambaran seperti itu tidak hanya terukir di hati para guru dan teman-teman mereka, tetapi semua orang yang menghargai kehidupan di Palestina.
Realitas menjadi orang tua di tempat yang dilanda perang seperti Gaza berarti perjuangan terus-menerus antara harapan dan keputusasaan.
Namun, kematian, bagi kami, terasa lebih ringan daripada bayangan kecemasan bahwa anak Anda akan menjadi yang berikutnya.
Setiap hari dihadapkan pada bukti suram dari keberadaan kita yang retak: gedung-gedung yang dibom, rumah sakit darurat, dan kehidupan teman dan tetangga kita yang luluh lantah.
Di saat-saat hening di antara kekacauan, aku melihat putri ku tidur, dadanya naik dan turun dengan setiap napas lembut.
Aku mengagumi kepolosannya dan kemampuannya untuk bersukacita dan takjub di dunia yang telah menunjukkan hilangnya kebaikan untuk anak-anak Palestina.
Saat aku menatap mata anak ku, aku melihat secercah mimpi yang dia bawa di dalam dirinya: mimpi tentang kehidupan yang bebas dari ancaman kekerasan yang terus-menerus, tentang dunia di mana dia dapat tumbuh dan berkembang tanpa rasa takut.
Tragedi ini menusuk hatiku seperti belati, dan rasa sakitnya tidak pernah benar-benar hilang.
Mau tak mau aku menempatkan diri pada posisi orang tua yang terpaksa mengubur anak-anak mereka, yang harapan, impian, dan tawanya dipadamkan oleh kejamnya mesin perang yang tidak manusiawi.
Merasakan hal ini menyebabkan aku sangat tertekan secara emosional, sering terombang-ambing antara kemarahan, kesedihan, dan perasaan tidak berdaya yang mendalam.
Bagi seorang pengungsi, yang kakeknya termasuk di antara mereka yang lolos dari kematian di kota Barbara yang hancur (sekarang menjadi bagian dari Ashkelon), pengeboman yang terus berlanjut adalah pengingat serius bahwa Nakba belum berakhir.
Saat kami memperingati 75 tahun Nakba bulan ini, kami menyadari bahwa bencana kehilangan tanah air kami pada tahun 1948 terus membentuk hidup kami dan perjuangan kami yang berkelanjutan untuk keadilan.



















































