Tragedi pembunuhan orang yang didedikasikan untuk penyembuhan dan kasih sayang semakin menggarisbawahi sifat tidak masuk akal dari kekerasan Israel.
Sedikitnya 20 lainnya terluka dalam serangan terakhir, dengan banyak dalam kondisi kritis.
Angka-angka ini diperkirakan akan meningkat karena serangan udara terus berlanjut dan tim penyelamat terus mencari di antara puing-puing.
Aku lalu memikirkan perang sebelumnya yang terjadi pada 2008-2009; 2012; 2014; 2021; dan 2022 dan ingatan akan nyawa tak berdosa hilang, termasuk anak-anak dan wanita.
Ketidakpastian hidup di Gaza adalah beban berat bagi orang tua, dan rasa takut kehilangan anak setiap saat adalah mimpi buruk yang terus menerus terbayang di pikiran.
Tetapi setelah putri ku Sarah lahir hampir setahun yang lalu, apa yang ku ketahui secara abstrak menjadi semakin nyata.
Sebagai orang tua, menghadapi perang ini dan menghadapi segala akibatnya bisa terasa melemahkan baik pisik maupun moral.
Ketika aku melihat ke dalam mata anak ku, aku tidak bisa tidak merasakan beratnya situasi kami, dan selalu bertanya-tanya bagaimana masa depannya atau apakah dia akan memilikinya;
jika harapan dan impiannya akan tergantikan dengan rasa takut akan kehilangan, kesedihan dan trauma.
Ketegangan menggantung berat di udara malam saat suara ledakan bergema di seluruh area.
Di seluruh Gaza, para orang tua berkumpul dengan erat bersama anak-anak mereka, melakukan yang terbaik untuk melindungi mereka dan meyakinkan mereka bahwa mereka akan baik-baik saja meskipun dalam hati mereka tahu bahwa tidak ada jaminan untuk selamat.



















































