Ultimatum Berakhir, Pemimpin Kudeta Militer di Niger Tolak Mundur dan Bersumpah Melawan

INTIP24 – Pemimpin kudeta di Niger telah mengabaikan ultimatum untuk mengakhiri kendali atas pemerintahan setelah menggulingkan Presiden Mohamed Bazoum.

Ultimatum yang memberi batas waktu telab berakhir pada hari Mknggu itu ditetapkan oleh Perhimpunan Ekonomi Negara-Negara Afrika Barat (ECOWAS).

Melansir RTNews, ECOWAS mengeluarkan ultimatum satu minggu kepada para pemimpin kudeta minggu lalu, menuntut Jenderal Abdourahamane Tchiani dan kabinetnya mundur dan mengembalikan Presiden Mohamed Bazoum kembali memerintah.

Namun Para pemimpin kudeta telah bersumpah untuk menyingkirkan Niger dari pengaruh kolonial, serta meminta dukungan ke grup militer swasta Wagner Rusia untuk mencapai hal ini.

Bacaan Lainnya

Seperti diberitakan sebelumnya, kudeta yang dipimpin Jenderal Abdourahamane Tchiani menangkap Bazoum akhir bulan lalu, Tchiani kemudian menghentikan ekspor uranium ke Prancis dan mengancam akan menangguhkan perjanjian militer dengan bekas penguasa kolonial negaranya itu.

“Kita semua akan berdiri dan berjuang sebagai satu bangsa,” Jenderal Mohamed Toumba mengatakan pada rapat umum para pendukungnya di ibu kota Niger, Niamey, Minggu sore.

“Kami meminta Anda untuk tetap dimobilisasi.” Seru Mohamed Toumba.

Sementara itu, Nigeria dan beberapa negara anggota blok ECOWAS telah menyusun rencana perang dan bersiap untuk invasi.

Namun, anggota parlemen di Nigeria telah mendorong Presiden Bola Tinubu untuk mencari solusi diplomatik sebelum mengirim pasukan Nigeria melintasi perbatasan.

Di lain pihak beberapa negara yang mendukung kudeta, pemerintah Mali dan Burkina Faso. Kedua pemimpin negara itu telah melepaskan diri merebut kekuasaan di tengah gelombang kerusuhan anti-Prancis selama dua tahun terakhir.

Setelah mengusir pasukan Prancis, yang terlibat dalam operasi kontra-pemberontakan selama satu dekade, dari wilayah mereka, kedua pemerintah telah berjanji untuk memperlakukan setiap invasi ECOWAS sebagai deklarasi perang melawan mereka.

Bazoum telah menyerukan intervensi militer AS, sementara junta dilaporkan telah meminta bantuan perusahaan militer swasta Rusia Wagner.

Namun, baik Kremlin maupun Grup Wagner tidak mengomentari permintaan tersebut, dan meskipun pemimpin Wagner Yevgeny Prigozhin telah menyebut kudeta sebagai “pemberontakan rakyat yang dibenarkan melawan eksploitasi Barat,” Moskow telah menyerukan untuk “kembali ke normalitas konstitusional” di Niger.

Diketahui, AS dan UE telah memberlakukan sanksi terhadap Niger setelah kudeta itu, dan Prancis telah menyatakan mendukung upaya ECOWAS untuk membawa Bazoum, sekutu Paris untuk kembali berkuasa.

Namun, pemerintah Prancis belum secara eksplisit menyatakan apakah dukungan itu berupa intervensi militer langsung.

Editor: Hasan M

Pos terkait