JAKARTA – Pada pertengahan Desember, sebuah kereta pemeliharaan dan lokomotif tergelincir di lokasi konstruksi dekat Bandung, menewaskan dua pekerja China dan memicu kekhawatiran tentang keselamatan kereta api berkecepatan tinggi di negara tersebut.
Itu adalah kecelakaan fatal pertama yang melibatkan jalur tersebut.
Seorang pejabat senior pemerintah Indonesia mengatakan ada masalah dengan rem lokomotif dan kesalahan manusia juga bisa menjadi penyebab kecelakaan itu.
Baik Jakarta maupun Beijing menyatakan bahwa kecelakaan tersebut tidak mengancam keselamatan kereta api cepat di Indonesia.
Kedua pemerintah menegaskan bahwa kecelakaan itu disebabkan oleh kendaraan perawatan dan lokomotif yang diimpor dari China tidak mengalami kerusakan parah.
Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) — konsorsium yang menjalankan proyek tersebut, yang didanai oleh BUMN Kereta Api Indonesia (KAI) dan organisasi lainnya — melanjutkan konstruksi sebelum temuan investigasi pemerintah atas kecelakaan tersebut dirilis.
Pejabat KAI mengatakan kepada wartawan pada 28 Januari bahwa pembukaan kereta api akan ditunda hingga Juli.
Beberapa telah menyuarakan keraguan bahwa jalur tersebut akan dibuka pada bulan Juli.
Pekerjaan konstruksi baru selesai 84% dengan beberapa rel kereta api masih belum terpasang, menurut pejabat KAI tersebut.
Uji coba jalur berkecepatan tinggi, yang akan beroperasi hingga 360 kilometer per jam, dijadwalkan akan dimulai sekitar akhir Mei.
Tetapi meskipun semuanya berjalan lancar, menurut ahli perkereta apian Jepang, memenuhi tenggat waktu Juli akan sulit.
Seorang eksekutif perusahaan perdagangan Jepang yang berpengalaman dalam proyek kereta api mengatakan bahwa data yang dikumpulkan selama uji coba menjadi penting.
Uji coba harus berjalan dengan kecepatan maksimum setelah posisi trek disesuaikan. Bahkan terkadang keakuratannya dalam skala milimeter.
Sementara menurut pejabat pemerintah Jepang, menguji dan memverifikasi proyek kereta api luar negeri yang didukung negara ya memakan waktu setidaknya satu tahun.
Selain masalah teknis itu, biaya konstruksi telah membengkak jauh melampaui perkiraan awal sebesar $5,5 miliar, memaksa pemerintah Indonesia untuk menyuntikkan dana lebih dari 7 triliun rupiah ($462,1 juta) ke dalam proyek tersebut.
Seorang pejabat KCIC pada bulan Desember mengatakan kepada parlemen bahwa konsorsium telah meminta pemerintah untuk memperpanjang hak operasinya menjadi 80 tahun dari semula 50 tahun.
Untuk itu, KCIC telah menetapkan tarif Jakarta-Bandung sebesar 250.000 rupiah, Perusahaan berencana untuk mempertahankan tarif sekitar 20% lebih tinggi dari kereta ekspres reguler (Argo Parahiyangan, Red).
Sementara itu, sejumlah pengamat menilai proyek tersebut tidak sejalan dengan rencana pemerintah untuk memindahkan ibu kota negara ke provinsi Kalimantan Timur di Pulau Kalimantan.
Yang lain mempertanyakan aksesibilitas jalur baru di Bandung, mengingat terminal terlalu jauh dari pusat kota.
Penumpang harus naik kereta yang berbeda saat melakukan perjalanan hingga ke Bandung.
Sumber: CNBC & Nikkei




















































