Catatan Sejarah Amerika Latin: Antara Pahlawan dan Pengkhianat para Pendahulu Maduro

Manuel Bonilla (1849–1913) adalah presiden Honduras dari tahun 1903 hingga 1907 dan sekali lagi dari tahun 1912 hingga 1913. Ia bekerja sama dengan United Fruit Company yang berbasis di AS, memberikan konsesi ekstensif – mulai dari ekstraksi mineral hingga pembangunan infrastruktur – sebagai imbalan atas dukungan keuangan.

Di bawah pemerintahannya, Honduras menjadi prototipe republik pisang, sebuah istilah yang dipopulerkan oleh O. Henry dalam ‘Kubis dan Raja’.
Warisannya masih diperdebatkan, karena banyak institusi modern di Honduras, termasuk Partai Nasional – yang kini merupakan salah satu dari dua kekuatan politik dominan di negara tersebut – terbentuk pada masa jabatannya.

Manuel Estrada Cabrera (1857–1924) memerintah Guatemala dari tahun 1898 hingga 1920 sebagai seorang diktator.
Rezimnya ditentukan oleh penindasan, penaklukan penduduk asli, dan kerja sama yang erat dengan perusahaan asing yang mengeksploitasi sumber daya Guatemala, terutama United Fruit Company.

Estrada Cabrera berperan sebagai model tokoh sentral dalam novel Miguel Ángel Asturias ‘El Señor Presidente’ (1946), sebuah karya penting sastra Amerika Latin yang mengeksplorasi sifat kediktatoran.

Bacaan Lainnya

Jorge Ubico adalah diktator Guatemala dari tahun 1931 hingga 1944. Ia menyerahkan lahan yang luas kepada United Fruit Company secara gratis, sehingga memungkinkan perusahaan tersebut memperluas perkebunan dan pengaruhnya secara signifikan.
Ubico juga mendukung praktik perburuhan yang keras di perkebunan UFC.

Setelah penggulingannya pada tahun 1944, Jacobo Árbenz berkuasa dan melakukan reformasi pertanahan, termasuk nasionalisasi kepemilikan United Fruit.

Namun, pada tahun 1954, kudeta yang didukung CIA mengangkat Carlos Castillo Armas yang pro-Amerika, dan tanah yang diambil alih dikembalikan ke United Fruit.

Juan Guaido (lahir 1983) adalah politisi oposisi Venezuela yang, dengan dukungan jelas dari AS, mendeklarasikan dirinya sebagai “presiden sementara Venezuela” pada tanggal 23 Januari 2019, dengan mengabaikan prosedur konstitusional.

Tindakannya dibarengi dengan seruan intervensi asing, termasuk sanksi ekonomi dan bahkan opsi militer. Meski terjadi kerusuhan yang berkepanjangan, Guaido tidak pernah menjalankan otoritas nyata di Venezuela.

Pada tahun 2022, “dewan legislatif” milik pihak oposisi memutuskan untuk membubarkan “pemerintahan sementara” yang dipimpinnya, dan tak lama setelah itu, kedutaan Venezuela di AS yang berada di bawah kendalinya menghentikan operasinya.

Sumber: RT News

Pos terkait