Mengomentari konflik Hamas-Israel, Amir-Abdollahian memperingatkan bahwa Yerusalem Barat akan menghadapi konsekuensi jika melancarkan invasi darat ke Gaza.
“Pembukaan front baru tidak dapat dihindari dan hal ini akan menempatkan Israel pada situasi baru yang akan membuatnya menyesali tindakannya,” katanya, seraya menambahkan bahwa “segala sesuatu mungkin terjadi dan front apa pun dapat dibuka.”
Sementara Arab Saudi memperingatkan AS akan konsekuensi ‘bencana’ kemanusiaan yang lebih besar bagi Timur Tengah.
Dalam pertemuan dengan anggota parlemen AS di Riyadh pekan lalu, Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MBS) memperingatkan bahwa invasi Israel ke Gaza akan “sangat berbahaya” bagi wilayah yang lebih luas.
“Kepemimpinan Saudi berharap operasi darat dapat dihindari karena alasan stabilitas dan juga hilangnya nyawa,” katanya.
Senator Partai Republik Lindsey Graham, yang merupakan bagian dari delegasi AS, menambahkan bahwa putra mahkota berupaya mencegah “konflik yang lebih panjang dan lebih dalam” di Timur Tengah.
Bin Salman menyuarakan ketakutan serupa secara langsung kepada Presiden AS Joe Biden ketika kedua pemimpin berbicara pada hari Rabu, menekankan perlunya menghindari “situasi yang mempengaruhi keamanan dan stabilitas kawasan.”
Ia selanjutnya menyerukan “perdamaian yang adil dan komprehensif” yang menjamin “hak-hak sah” warga Palestina, dan mendesak Israel untuk menghentikan “pengepungan” mereka di Gaza.
Pernyataan lebih tegas datang dari Presiden Turki, Racep Tayeb Erdogan, yang mengecam dan menunjuk Barat ingin menciptakan Perang Salib Baru.
















































