Monica mengatakan daripada skripsi, dia lebih suka membuat proyek seperti inovasi makanan.
“Awalnya saya berpikir pembuatan skripsi cukup sulit sehingga jika ada bentuk lain dari tugas akhir, saya akan mencobanya terutama proyek-proyek karena menurut saya hal tersebut lebih menarik,” ungkapnya kepada BBC News Indonesia.
Teman satu jurusan Monica, Brian Laywith mengatakan dia sebenarnya tidak keberatan menulis skripsi karena mahasiswa jurusan sains sudah terbiasa menulis laporan akademik. Pasalnya, dia merasa skripsi tidak dibutuhkan ketika masuk ke dunia kerja.
“Kayaknya dari pihak perusahaan atau recruiter juga enggak perlu tahu skripsi apa yang saya buat tapi mereka akan lihat proyek-proyek yang saya buat semasa kuliah,” ujarnya.
Galang, mahasiswa semester tiga jurusan teknik sipil di Universitas Negeri Malang, memandang skripsi sebagai salah satu faktor yang kadang-kadang membuat kakak tingkatnya lulus lebih lambat dari yang direncanakan.
Namun, katanya, di prodi teknik sipil tugas akhir tidak hanya dalam bentuk skripsi tetapi ada juga proyek-proyek dengan pembuatan laporan yang “hampir sama kayak skripsi” – dan itu termasuk elemen utama yang memengaruhi kelulusan.
“Untuk saat ini sih saya realistis aja sebagai mahasiswa apalagi saya masih semester 3 dan skripsi itu juga masih lama jadi saya merasanya kayak senang,” kata Galang.
“Tapi saya masih enggak tahu semisal nanti pengganti skripsinya ini ternyata lebih sulit dari skripsi.”
Seorang mahasiswa program doktoral di Institut Teknologi Bandung (ITB), yang bicara dengan syarat anonim, mengaku akan “senang banget” jika senat ITB memutuskan untuk ikut kebijakan Nadiem menghapus syarat publikasi di jurnal ilmiah. Karena itu akan memungkinkan dia untuk lulus lebih cepat.
Dia menjelaskan, proses pembuatan dan penerbitan makalah di jurnal ilmiah biasanya membutuhkan waktu yang lama. Dan mahasiswa tidak bisa mengajukan untuk sidang disertasi jika belum diterima.
“Jadi agak memberatkannya itu ketika kita harus menambah waktu untuk menulis [paper] dan menunggu accepted-nya si paper itu. Dan kalau misalkan nambah waktu kan nambah biaya lagi ya buat perkuliahannya,” ungkapnya kepada BBC News Indonesia.
Pengamat: Mahasiswa tetap perlu kemampuan menulis karya ilmiah
Pengamat kebijakan pendidikan Cecep Darmawan menilai kebijakan Menteri Nadiem sudah tepat. Namun dia mengingatkan agar keterampilan mahasiswa untuk menulis karya ilmiah jangan sampai hilang.
Menurut Cecep, meskipun skripsi sudah tidak diwajibkan, harus tetap ada mata kuliah-mata kuliah yang menunjang pembuatan karya tulis ilmiah, misalnya metode penelitian.














































