INTIP24NEWS | JAKARTA – Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Raja Sapta Oktohari (RSO) memiliki gaya hidup hedonisme (hedon). Setidaknya hal itu terpantau dari media sosial, dari mulai naik private jet, yacht mewah, sampai rumah yang megah serta memiliki harimau putih langka.
Baru baru ini RSO terpantau sedang liburan di pulau miliknya dengan segala fasilitas yang digunakan nampak sangat mewah.
Gaya hidup hedon dan mewah ini sangat bertolak belakang dengan anjuran Presiden Jokowi agar pejabat negara menunjukkan gaya hidup yang sederhana dan tidak pamer harta kekayaan.
Apalagi, gaya hidup Raja Sapta Oktohari yang hedon ini dilihat oleh para korban gagal bayar PT. Mahkota. Para korban yang hidup prihatin karena dana mereka senilai 6.7 triliun lebih telah raib di perusahaan milik RSO dimana RSO sendiri sebagai direktur utamanya.
Atas hal ini para korban PT. Mahkota dan OSO Sekuritas meminta Presiden Jokowi agar dapat dengan bijak segera mencopot Raja Sapta Oktohari dari ketua KOI yang mempertontonkan gaya hidup dengan tidak memperdulikan rasa prihatin masyarakat korban gagal bayar tersebut.
Seperti diberitakan sebelumnya, Raja Sapta Oktohari diduga mengunakan jabatannya sebagai Ketua KOI untuk menghindari panggilan kepolisian (Polda Metro Jaya).
Sejauh ini sudah 7 kali dipanggil oleh penyelidik Polda dalam kurun waktu 2 tahun mangkir terus. Hal ini dipercaya oleh para korban Mahkota akan merusak citra pemerintahan Jokowi, seolah melindungi Terlapor pelaku pidana perbankan dan pencucian uang. Pemerintah terkesan memberikan jabatan tanpa memperhatikan karakter dan track recordnya ketika mrnjalankan PT. Mahkota yang telah merugikan masyarakat luas.
Salah seorang korban (R) memberikan keterangan kepada awak media, “saya berharap sekali kepada Presiden Jokowi yang saya cintai agar memperhatikan rasa keadilan, uang saya puluhan milyar tidak dikembalikan PT. Mahkota milik Raja Sapta Oktohari, dan setiap hari saya melihat bagaimana RSO berfoya-foya di Bali, naik private jet, Yacht bahkan punya kebun binatang dirumahnya dengan memelihara harimau putih. Sedangkan kami sampai harus makan nasi dengan garam saja. Dimana keadilan itu bapak Presiden Jokowi?”
Korban lainnya M juga mengungkapkan kekecewaannya sambil menangis. “Dua tahun saya sudah menunggu, sama sekali tidak ada itikat baik untuk mengembalikan dana saya dan orang tua saya, malah saya ditawarkan ganti rugi dengan properti yang tidak jelas, selain belum dibangun, tidak ada IMB nya pula. Yang ada hanya niat untuk kembali menipu. Tolong bapak Presiden Jokowi, melihat karakter dan perbuatan pejabat negara kepada masyarakat. Sebelum memilih pejabat negara selain demi rasa keadilan agar dukungan makin mengalir kepada pemerintahan, tolong bapak Presiden Jokowo dicopot dulu Raja Sapta Oktohari dari jabatannya agar RSO dapat menjalani proses hukum.” tutur korban (M)
“Hal ini sesuai dengan kata-kata bapak Equality before the law.” imbuhnya.
Diketahui korban M menghubungi Hotline LQ 0818-0489-0999 dan memberikan kuasa, dan kini proses LP sudah naik sidik.
Sumber: LQ Indonesia Lawfirm








































